You know what ? angka 6 adalah salah satu angka favorite
gue, karena pada tingkatan tersebut semuanya berakhir, masa merah putih gue
akan berakhir tak lama lagi, segala persiapan menghadapi putih biru udah
lengkap sepenuhnya, hanya yang belum lengkap kemana perasaan ini akan gue bawa,
sampai dimana letak kesanggupan gue untuk berhenti mengaguminya, kita emang
nggak pernah tau apa yang akan terjadi dimasa depan, takdir kehidupan memang sudah
digariskan, tapi buat gue selama takdir masih berkaitan dengan penentuan siapa
gue nanti itu semua bisa ubah, karena takdir nggak selama keputusan akhir yang
tuhan berikan, gue sering bertanya-tanya sama diri gue sendiri sampai kapan
semuanya bergulir begitu saja tanpa adanya kepastian, diri ini memang sudah
lelah sangat lelah, akan tetapi hati ku tak menghendaki untuk berhenti
sekarang, apa mungkin gue masih punya kesempatan ? setidaknya itu bisa sedikit memberi
ruang buat gue untuk bernafas lebih lama, sekarang dia memang sudah tak
dimiliki oleh siapapun, tapi hatinya ?
Perasaan ini kian dalam, tapi gue nggak pernah mau menklaim
kalau ini adalah cinta, karena gue sendiri pun nggak tau apa arti cinta saat
itu, yang pasti satu hal yang gue yakinin kalau gue ternyata nggak siap untuk
jatuh cinta, rasanya terlalu sakit mengenang kejadian lalu, yang menurut gue
itu nggak adil, kenapa tuhan nggak menghendaki fandi sama gue, sementara
terlalu banyak pengorbanan yang udah lakuin selama 3 tahun belakangan, hanya
karena dia orang yang sama sekali nggak pernah manuruh sedikit pun rasa sukanya
gue, walaupun kita sering bareng kemanapun.
Kelulusan gue tiba, ini artinya gue nggak akan bisa lagi
ketemu sama fandy, rumah gue juga pindah sehingga gue juga usah nggak bisa lagi
satu tempat pengajian sama dia, awalnya gue santai aja, mungkin kalau nanti gue
bener-bener pisah sama fandy ceritanya akan jadi lain, kita berdua bisa saling
menemukan orang yang tepat, bisa saling mencintai dan merasa dicintai, selama
ini gue selalu menatap sinis sama diri gue sendiri, kenapa gue harus jadi seorang
pengecut, tapi pembelaan selalu dating dari hati gue, yang bilang “cinta yang
sempurna bukanlah cinta yang memenuhi kesempuraan itu, akan tetapi cinta yang
bisa membuat seseorang menjadi lebih sempurna” disisi lain gue nggak mau ngaki,
kalau perasaan gue waktu itu adalah cinta, terus apa sebabnya ? rasa cemburu
yang berlebihan ? berusaha cari perhatiannya? Dan kenapa gue harus nangis tiap
kali inget dia ?.
Tapi ternyata perkiraan gue meleset, kelulusan ini
nggak gampang buat gue, apalagi semenjak
kita punya kehidupan baru disekolah masing-masing, sama sekali nggak ada
contack diantara kita, semuanya kayak ilang gitu aja, apa mungkin dia kangen
sama gue ? hah … imposible. Gue suka ketawa sendiri kalau inget gelagat gue
yang aneh dulu, gimana cara-cara konyol gue Cuma buat bikin dia seneng ada gue
didekatnya, jujur sampai sekarang gue nggak bisa sepenuhnya ngelupain fandy,
dia adalah kenangan yang terlalu berharga buat gue lupain, 7 tahun berlalu
cepat, tapi merupakan waktu yang sangat lambat juga menyakitkan buat hati gue
yang masih aja diliputi bayang-bayang fandy, dulu gue sering berdoa sama tuhan
agar suatu saat tuhan berbaik hati mau memberikan pertanyaan atas apa yang gue
rasain dan gue simpan baik-baik agar fandy nggak pernah tau sebesar apa rasa
sayang gue ke dia, ternyata ini memang cinta, 7 tahun memang terbuang percuma,
karena hal ini membuat gue nggak pernah benar-benar memahami apa itu cinta,
affandy adalah cinta pertama gue bagian
dari masalalu yang udah kasih gue pelajaran berharga kalau cinta tak harus
memiliki, hanya seulas senyum ikhlas yang dapat kita berikan kepada orang yang
kita cintai agar mereka bahagia, meski hati tak pernah bisa berdusta, namun
tuhan pasti akan membuka jalannya