Semuanya
berlalu begitu cepat, tapi tak turut serta bersama kenangan ku bersamamu
sepanjang waktu, meski kerbersamaan kita tak berlangsung abadi, namun bayang mu
selalu mengalun dalam khayalku, walau ragamu kini tak lagi dapat ku rengkuh
juga ku jejali dengan jari-jari tanganku, keberadaanmu yang memberiku sebuah
topangan hidup, tak hanya dulu tapi hingga kini segalanya masih kurasa sama,
bedanya aku tak lagi bisa menyentuhmu, tertawa bersamamu, bahkan menangis
dipelukanmu dan merasakan sentuhan
lembut tanganmu dirambutku, aku bahagia melawati hari penuh kebahagiaan berdua
denganmu, aku menyayangmu tak sadar perasaan itu mulai tumbuh, seiring ribuan
jam yang menjadi saksi lampau cinta ku padamu, kau pernah berkata “jika suatu
saat nanti kita tak lagi bersama, maka ingatlah hari ini sebagai cacatan akhir
kebersamaan kita yang indah” aku tersenyum pahit mendengar ucapan mu kala itu,
tapi sekarang aku mengerti ketika kita memang harus menyudahi semuanya, aku tak
menyalahkan kepergianmu, juga takdir yang menyeretmu keluar paksa dari hidupku,
aku tau kau lelah, kita memang bertemu disaat kehidupan tak memihak padamu juga
padaku, aku ingin pergi bersamamu, tapi tuhan melarang, aku tak tau apa
maksudnya, memang seharusnya aku berada disisimu sekarang, semua sudah memvonis
usiaku takkan lama, begitulah kata yang juga mereka katakana kepadamu, lalu
mengapa tuhan mengizinkanku tetap tinggal ? aku memujamu wahai cinta, mengagumi
setiap gerak juga siluet mu dari kejauhan, aku memesona mu maha cinta, merona
wajahku saat menatapmu, bak senja saat matahari kembali keperaduan.
Giofani
Ardan …
Nama itu … nama yang sangat kusukai,
menyebutnya berulang kali tak lantas membuatku bosan, 305 hari aku berada terus
disampingmu, selama itulah aku terus bersumpah atas nama cinta, kau tak pernah
berhenti menggengam jemariku kala takut itu kembali datang, bahkan kau menjaga
ku dalam tidur saat malam mulai menjelang, kau mengalunkan ayat-ayat suci nan
indah kala mataku sulit terpejam, kau bangunkan aku saat mimpi buruk merasuki
alam bawah sadar ku, kau setia menantikan fajar itu untukku, kau pastikan aku
akan bisa melihat matahari terbit di hari esok.
Aku merindukan mu …
Sangat merindukan mu …
“tuhan … aku sangat yakin kalau saat ini Giofani
sedang tersenyum berada dipangkuanmu, jaga dia tuhan … kumohon beri dia tempat
terindahmu disana … dia bahagia sekarang ? tentu saja dia pasti sangat bahagia,
terima kasih kau telah melepas segala rasa sakitnya, terima kasih karena kau
telah membawanya dalam kedamaian, tuhan … jika pada akhirnya kau akan
memanggilku, beri aku kesempatan untuk kembali bersamanya, seperti disaat kita
berdua meleati 305 hari penuh cinta
Giofani …
Terima kasih untuk 305 hari terindah
sepanjang hidupku, terima kasih untuk 305 hari kebersamaan kita, dan terima
kasih untuk 305 hari milik “kita”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar