Amanda terlihat sumringah disaat
menikmati waktu sore dibelakang rumahnya yang tertanam sebuah pohon jambu
tempat dimana amanda untuk bersantai dengan merenung dibawah pohon berdaun
rimbun tersebut.tempat dimana ia selalu menghabiskan waktu setiap saat bersama
anjas, tak akan pernah amanda lupakan bagaimana pertemuan mereka untuk pertama
kalinya, saat usia keduanya baru 3
tahun, dengan gigi kecil yang baru mulai tumbuh. pada saat itu mama anjas
mengajaknya bermain ke halaman belakang rumah amanda, katanya agar mereka bisa
bersosialisasi, anjas yang tak pernah lepas dari robot kesayangannya, juga
amanda yang enggan berada jauh dari boneka teddy bear yang selalu menemaninya
kemanapun,keduanya begitu lucu saat memperebutkan mainan,renyahnya tawa amanda
setiap kali anjas terjatuh saat berlari mengejar robot mainan canggihnya yang
berjalan kaku. keduanya juga tak
menyangka kalau pertemuan itu akan menjadi sebuah persahabatan yang panjang,
pohon berdaun lebat tersebut telah menjadi saksi bisu, bagaimana kebahagiaan
mereka yang terus bergulir sepanjang masa, yang
sudah bertahun-tahun menaungi keduanya bermain,bercanda,juga berbagi
tawa. Angin juga seakan ingin ikut larut dalam suka cita anjas dan amanda.
“gue gak suka lo deket-deket sama cowok
kelewat metropolis kaya dia” tegur anjas yang seketika membuyarkan lamunan
Amanda tentang pangeran dari negeri sebrang yang ingin menikahinya (lebay).
Senja disaat matahari kembali ke
peraduaan adalah saat yang tepat bagi amanda untuk meresapi segala mimpi-mimpinya,
dengan memandang langit berwarna oranye berpadu dengan warna kemerahan lembut,
sensasi seperti sekarang yang tidak ingin amanda lewatkan, sore kali ini terasa
berbeda, ya .. memang ada sesuatu yang lain.
“lo tuh ya, baru dateng udah bikin jantungan
“ ia menjawil pipi anjas yang putih lembut seperti kulit bayi sampai kemerahan,
anjas hanya diam diperlakukan seperti itu ia sudah terbiasa dengan cubitan
manda yang sebenarnya sakit banget, tapi toh anjas merasa bahagia karna
setidaknya ia mendapat sentuhan dari tangan manda meski harus merasakan
perihnya.
Wajar saja anjas tak merasa suka dengan
kehadiran Alden dalam kehidupan Amanda, sekaligus menjadi perusak hari-hari
bahagia mereka berdua. Sudah dua minggu belakangan ini Amanda banyak
menghabiskan waktu dengan alden, perkenalan merek bermula saat tidak sengaja
mobil alden menabrak sepeda yang sedang dinaiki Amanda, hingga ia terperosok
kedalam selokan, awalya Amanda merasa tak terima emosionalnya yang tinggi
memaksa alden harus mendengar ocehan Amanda yang panjang bahkan disana mungkin
tak terdapat titik dan koma, satu pukulan yang Amanda beri dihidung cowok itu pun
masih membekas hingga kini, bukannya berbalik marah alden justru dengan tulus
menolong Amanda dan mengobati lengan dan kakinya yang berbalur luka, melihat
sikap alden yang sangat lembut membuat amanda terpesona dan seketika jatuh hati
oleh sosok tampan seperti alden, serta tidak menolak saat alden mengajaknya
berteman lebih akrab
“pria idaman” itulah kesan amanda saat
jumpa keduanya diawal
Atau mungkin ini yang namanya cinta pada
pandangan pertama ? hah…. masih terlalu dini untuk meyakinkan hati kepada sang
pangeran tampan berjiwa kesatria
“emang kenapa sih kalo gue deket sama
alden ? dia kan ganteng, lo harusnya ngedukung gue dong sama dia” amanda tak
perduli dengan tingkah anjas yang over protektif kepadanya, ia tau kalau anjas
berlaku seperti itu karena tak ingin dirinya merasa kecewa kepada laki-laki,
namun kali ini amanda merasa ia sudah cukup dewasa dalam menentukan siapa cowok
yang bisa mendampingi dirinya
“tapi kan lo baru kenal sama dia, jadi
gue saranin jangan terlalu care deh sama si sarden” Gelisah membelenggu hati
anjas, ia tak paham apa yang sebenarnya terjadi, apa mungkin ia mulai mencintai
gadis disampingnya ini, entah lah yang jelas anjas merasa tak suka ada orang
lain yang membuat amanda tertawa lepas, ia merasa jika tawa dan senyum manda telah
menjadi hak paten baginya, dan tak seorang pun bisa menggantikan posisinya
sebagai pendamping amanda.
Amanda tak membalas perkataan anjas yang
mencela nama pangeran impiannya, ia hanya tak ingin masalah ini menimbulkan
pertengkaran lagi, lebih baik kali ini ia yang mengalah dan mengabaikan segala
opini anjas tentang alden. Keduanya larut dalam benak kegundahan yang
menyelimuti jiwa
Dua
sahabat yang terombang ambing dengan perasaan masing-masing dan tak pernah tahu
dimana perahu cinta itu akan berlambuh biarlah deburan ombak yang membawanya, maka seperti
itulah penggambaran takdir tuhan.
Sampai
kapan ini akan berakhir?
//
Dalam
kesehariannya, anjas dikenal sebagai pria yang sangat suka bersyair dan membuat
sajak-sajak indah, wanita manapun akan serta merta luluh hatinya bila membaca
aneka ragam puisi hasil kreatifitas juga pengolahan kata yang ciamik miliknya,
anjas juga sangat lihai membuat lagu-lagu bertema romantis siapapun juga bisa
seketika larut dalam dawaian lantunan suara merdunya. Sedari dulu memang sudah
banyak wanita yang menggilainya, namun tak banyak yang tau kalau anjas sampai
saat ini belum pernah memiliki pacar sekalipun, anjas hanya tak ingin nantinya
akan mengabaikan amanda yang telah ia jaga bertahun-tahun, baginya kebahagiaan
yang ia peroleh sekarang sudah cukup, karena tidak ada rasa bahagia yang akan
Nampak ke permukaaan selain saat bersama amanda.
“Siapa bilang cinta tak berwujud, siapa
bilang cinta tak terlihat, atas dasar pandangan siapa jika cinta hanya bisa
dirasakan tanpa bisa disentuh, menurut ku cinta itu ya amanda, iya nyata dan
iya ada bukan hanya sekedar khayalan semata, bahkan aku bisa merasakan hembusan
nafasnya, ya tuhan …… bagaimana cara ku untuk mengungkap segala kegundahan yang
kualami, aku tidak mengerti kenapa rasa ini harus mengembang pesat, memang
banyak orang yang mengatakan jika laki-laki dan perempuan yang terikat dalam
jalinan persahabatan takakan bisa menghindari perasaan cinta satu sama lain,
awalnya aku merasa yakin kalau tak akan ada perasaan semacam itu, tapi yang
terjadi sekarang aku mencintai amanda bahkan sangat mencintainya hingga tak
dapat ku bendung lagi, kenyataan pahitnya adalah ini hanya cinta sepihak, dan
ku tahu amanda menyayangiku hanya sebagai sahabat yang selalu setia menjaganya, ya tuhan …..
aku terlalu takut dengan segala kemungkinan terburuk yang mungkin akan
menghempaskan diriku, juga rusaknya persahabatan ku dengannya dipenghujung,
tapi tak bisa juga ku hindari kondisi seperti sekarang disaat amanda mulai
berbagi perhatian dengan orang lain, aku cemburu…… tapi aku mengerti dan paham
kapasitas ku hanya sebagai seorang kawan, tak memiliki hak untuk marah juga
melarang. Namun sampai kapan ku korbankan hatiku, aku mungkin terluka tapi tak
bisa membiarkan amanda terluka bersamaku, tuhan ……kumohon beri aku penjelasan.”
Kutipan yang baru saja ditulis anjas
dibuku hariannya, lembaran yang selalu menjadi tempat favorit anjas untuk
bercerita, baginya menuliskan jauh lebih baik dibanding harus mengungkapkan.
Maklumi saja anjas memang tipe pria yang tidak suka blak-blakan, akan tetapi
langkahnya perlahan kian pasti, meski kadang suka keduluan orang karena si anjas
kelamaan. (loh ..? )
“hah …. ” iya mendesah berusaha
menenangkan dirinya sendiri, ia sudah tak ingin berkelit dengan kegalauannya,
kini ia pasrah apapun yang akan terjadi biarlah ini menjadi sebuah cerita.
//
Malam minggu, satu malam favorit bagi semua
orang yang memadu kasih menghabiskan waktu, entah hanya untuk sekedar bertemu,
nonton film, sampai dinner romantis di warung makan pinggir jalan. Amanda
merasa enggan melakukan hal tersebut, bukan karena dia tidak punya pacar
(sebenarnya itu juga termasuk) tapi lebih kepada karena ia tidak suka
berpergian seperti itu, baginya tak ada malam special, semua malam sama
menurutnya lebih baik ia mempergunakan malam itu untuk bersantai dirumah,
bermain monopoli dengan anjas, atau bahkan ia memilih untuk tidur, tapi
sekarang ia sepertinya sudah merasakan betapa serunya bisa berada diluar
menikmati indahnya malam hari bersama seseorang, kali ini bukan anjas yang
menemaninya, tetapi alden, sepanjang perjalanan amanda terus saja menebar
senyumnya, hatinya berbunga-bunga saat alden mengajaknya kencan lewat telefon
jumat lalu.
“kamu kenapa sih senyum-senyum terus
dari tadi?” Tanya anjas, yang heran memperhatikan gelagat amanda. Ia jadi tak
konsen saat menyetir
Lagi-lagi hanya senyum yang
diperlihatkan amanda, pertanda ia bahagia, alden sepertinya mengerti atau
mungkin juga ia tahu kalau amanda menyukainya, dalam satu tebakan saja sudah
tepat sasaran.
Moment satnite kali ini memang sangat
istimewa bagi amanda, apalagi alasannya selain ia akan melawati malam bersama
alden,.sebuah taman menjadi pilihan mereka untuk menghabiskan sepanjang malam
yang cerah ini, pandangan keduanya langsung menyapa aneka macam bunga warna
warni cantik yang sedang bermekaran, pepohon
besar yang sedikit demi sedikit telah menggurkan dedaunannya yang
mengerik diatas tanah berumput pendek, juga air mancur mini yang berada di tengah taman, gemericik
airnya mampu menyejukkan malam yang tak terlalu bersuhu dingin. Bulan begitu serasi dengan larasan bintang yang
bertabur penuh kerlip cahaya, terangnya bulan seperti tak ingin kalah, sehingga
biasan cahayanya juga mempuni untuk membuat sipapun yang melihat angkasa luas
di langit akan takjub.. Cerahnya langit menambah lebar sunggingan senyum di
bibir mungil amanda berlipstik pingk soft, deru laju kendaraan yang sesekali
terdengar dari sekitaran luar taman yang memang berada di antara jalan-jalan
kota tidak mengurangi pesona malam ini. Keduanya duduk diatas sebuah bangku
kayu, sambil sesekali merapatkan tubuh mereka..agar lebih terasa hangat
“gadis imut berparas cantik” kata-kata
alden, membuat amanda termenung lalu menoleh menatap sang pangeran yang juga
sedang menatapnya dalam menyelubungi hatinya
“iya kamu, gadis berparas cantik, aku
suka sama kamu, dan aku rasa kita memiliki perasaan yang sama “ sejenak hening,
keduanya diam, saling menatap, untuk meyakinkan hati mereka yang berbicara
masing-masing
Degup
jantung amanda semakin tak beraturan, deburan nafasnya terus memburu, membuatnya
kehilangan kendali akan perasaannya inilah saat yang sangat ditunggu oleh amanda.
sang pangeran yang siap menjemputnya ke ranah kebahagiaan, hanya seulas senyum
manis penuh isyarat yang ia tunjukan.
Alden yang tak tahu harus berbuat apa,
perlahan mendekat dan mengecup lembut bibir amanda, keduanya larut dalam kadung
percintaan yang mereka sesungguhnya tak mengerti apakah rasa ini benar adanya,
bersamaan dengan cahaya rembulan dan kerlip bintang yang kian benderang.
Hah sungguh satu malam yang sangat
sempurna J
//
3 minggu terlewati serasa kata sedih
sudah resmi dihapuskan dalam kamus kehidupan amanda, yang ada hanya hari-hari
yang penuh dengan tawa bahagia dan hanya kebahagiaan, tiada hari tanpa keberadaan alden disinya,
setiap hari setiap saat eratnya hubungan mereka kian hari tak bisa terlepas,
alden telah memberi amanda segalanya, tipe pria idaman yang selalu amandan impikan,
sementara di lain hati ia telah menyakiti seseorang yang mungkin menaruh cinta
padanya jauh lebih besar dari siapapun lelaki yang pernah mencintainya.
Bagi amanda yang tak tau menau akan hal lain
selain dirinya dan alden yang telah terjun dalam jerat cinta. hidup kini terasa
begitu sempurna. sangat tersirat dari rona wajah amanda yang selalu berseri.
Tak seperti layaknya anjas yang harus
menelan kenyataan pahit, ia mengutuk perasaan cinta yang terlanjur menjalar dan
tak bisa di kikis lagi, ia bahagia melihat amanda menemukan orang yang tepat,
tapi bagaimana dengan hatinya sendiri, bagaimana dengan perasaannya yang
hancur, haruskah ia marah ? akan tetapi apa haknya untuk marah, lalu kepada
siapa ia akan melampiaskan amarahnya yang menggelora.
“andai aja gak gue biarin cinta ini ada”
“coba aja dari awal gue bisa ngendaliin
perasaan gue”
“lo terlalu bego njas, amanda gak
mungkin jadi milik lo”
“harusnya lo udah tau kalau selamanya
amanda Cuma akan jadi sahabat lo”
“dia gak akan pernah jadi milik lo”
“perasaan ini adalah dosa, dan gak akan
mungkin bisa diterima
“ini adalah cinta yang penuh dengan
dusta juga kenistaan! aaaaaaaaaa”
Anjas menatap dirinya di cermin,ia
menatap wajahnya yang lusuh, anjas merasa telah dibodohi oleh segala macam rasa
yang dimilikinya, sambil mengucapkan sumpah serapah pada dirinya sendiri,
mencaci hatinya yang tak kunjung bisa merelakan amanda, setidaknya sampai saat
ini ia masing sanggup memaksakan senyumnya tiap kali dengan menggebu-gebu
amanda menceritakan hal apa saja yang ia lakukan bersama alden di hari itu,
bahkan setidaknya anjas tak kelewatan berbicara sinis menanggapi cerita
sahabatnya itu.
Ia berkilah masih sanggup berdiri tegar,
tak ayal dia mencibir dirinya dengan berkata
“gue gak harus bersujud dan mencium kaki
amanda supaya dia mau ninggalin sih alden terus nerima cinta gue kan ?
“atau gue harus ngelukain diri gue
sendiri, supaya amanda peka sama perasaan gue, bunuh diri mungkin ?”
Hah gue gak serendah itu untuk memperjuangkan
apa yang memang gak akan bisa jadi milik gue.
//
Hari terakhir masa ujian akhir sekolah
pun usai, amanda berteriak riang sambil melompat-lompat layaknya balita yang
baru saja memperoleh sebuah permen coklat, anjas hanya melirik sesaat lalu
kembali berkonsentrasi dengan buku yang sedang dibacanya (seperti biasa).
Walaupun ujian telah usai, hobby anjas yang gemar membaca memang tak bisa di
hilangkan dari hidupnya, bagi anjas buku adalah segalanya, yang bisa diartikan
sebagai jendela dunia, dengan buku bisa
membuatnya memiliki pengetahuan umum di atas rata-rata anak-anak yang lain,
anjas memang sangat pintar, ia tidak pernah puas dengan semua pencapaiaan
prestasinya selama ini, ia juga tak pernah bosan apalagi berkata “gue capek
belajar mulu” . anjas memang tipe anak yang tidak ingin kalah dari siapapun,
aneka ragam ilmu social mungkin telah ia kuasai, tapi ia bilang kalau ingin
sekali melebihi kecerdasaan albert Einstein, tekadnya yang kuat memang tak
menutup kemungkinan ia akan menjadi seorang yang hebat. Tidak seperti amanda
yang belajar selalu ogah-ogahan, alasan yang selalu ia beri setiap kali
diharuskan belajar bersama dengan anjas, membuat dia selalu bergantung pada
anjas yang akan memberikan contekan padanya setiap kali ujian, toh anjas juga
tidak keberatan menolong sahabatnya itu meski terkadang nggak tau diri kalau
nanya.
“anjas ……” seloroh amanda sedikit
mengerlikan matanya pada anjas, gaya centilnya membuat anjas serasa ingin
muntah
“apaan sih lo, bikin gue takut aja “
konsentrasinya seketika buyar, buku yang tadi dibacanya pun langsung dimasukan
kedalam tas, ia sangat tau kondisi seperti ini tak mungkin ia bisa enjoy lanjut
membaca, pasti amanda dengan senang hati menggodanya, karena tak ingin anjas
mengabaikan dirinya saat bicara, alhasil anjas lah yang harus mengalah.
“lo aneh deh njas belakangan ini, lo
kaya pengen ngejauh gitu dari gue, kenapa sih ? gue punya salah ya sama lo ?”
suasana berubah menjadi lebih tegang, kali ini bukan pertanyaan konyol yang
dilontarkan amanda, melainkan sebuah pertanyaan yang sangat serius dan
menginginkan sebuah jawaban yang pasti agar segalanya tak lagi mengganjal.
“masih belum sadar juga dia, apa harus gue bilang semuanya sama dia
sekarang juga” kata-kata itu menggelitik hatinya, dalam bayangannya adalah
wajah amanda yang bahagia mendengar uraian kata cinta darinya, lalu menghambur
ke pelukannya, tak ingin khayalnya semakin berlanjut, ia berusaha kembali ke
dunianya yang nyata, yaitu kemungkinan terbesarnya adalah tamparan keras yang
akan diterima, lalu saat itu juga akan terjadi putusnya tali persahabatan yang
sudah terjalin selama 16 tahun lamanya, terpaksa ia menelan kembali kata-kata
buaian cinta yang baru saja ingin iya utarakan
“gue gak apa-apa kok” anjas terus
bergejolak diantara pilihan akal sehatnya yang akan bicara atau hati kecilnya
yang terus memberontak agar segalanya terselesaikan saat itu juga “cinta tak
memandang logika” ungkapan itulah yang kini selalu terngiang di telinga anjas
setiap kali cinta ini harus berpacu dengan waktu.
“gue minta maaf ya kalo gue udah gak
punya waktu banyak buat lo, tapi gimanapun juga selamanya gak akan ada yang
bisa gantiin lo sebagai sahabat gue, lo gak perlu cemburu sama alden” ujar
amanda, yang seakan paham dengan perasaan anjas yang merasa kehilangannya,
untuk meyakinkan anjas bahwa ia tak akan pergi dari sisinya, amanda pun memeluk
anjas, entah reflek atau karena itu adalah pelukan tulus sebagai seorang
sahabat. Anjas merasa tenang, membuat harapannya kembali bersemi
“amanda cinta sama alden njas”
sebenarnya amanda juga tidak paham akan ucapannya tadi, tapi ia yakin suatu
saat pasti akan ada kepastian bagi dirinya
Tanpa terasa setetes air mata mengalir
di pipi anjas, ia menghela nafas dalam
Hah ………..
//
Amanda mengendap ngendap naik perlahan
menuju kamar anjas, tidak ingin kalau anjas menyadari kehadirannya, hari ini ia
janji mengajak anjas untuk ikut bersamanya nonton film romantic habibie dan
Ainun bersama alden, rencanya amanda akan membuat anjas dan alden lebih saling
mengenal satu sama lain, dan ada baiknya jika mereka juga bersahabat, pasti hal
yang sangat menyakitkan bagi anjas melihat amanda duduk berdampingan dengan
alden lalu saling berpegangan saat menonton, serta mengurai kata-kata manja
yang menjijikan
ia mengira kalau anjas sedang tidur
siang, sehingga otak jahilnya kembali beraksi, tapi ketika tidak mendapati anjas
dikamarnya kekecewaan Nampak sangat jelas diwajahnya
“yah gagal deh ngerjain si poo(panggilan
kesayangan)” ia pun duduk di dekat meja belajar warna hijau milik anjas
Kamar anjas terlihat kosong, barangkali
ia sedang pergi keluar membeli beberapa cemilan kesukaannya di minimarket dekat
komplek perumahan yang ia tinggali. Atau mungkin ia sedang menggoda janda
cantik disebelah rumahnya, memikirkan hal tersebut membuat amanda cekikian
sendiri. Iseng karena anjas tak kunjung datang amanda melihat-lihat koleksi
buku ensiklopedia kepunyaan anjas yang tersusun rapi di sebuah rak buku besar
“hah buku-buku nya ngebosenin" ia
menjuling sebal saat melihat urutan buku-buku yang tebalnya bisa kisaran 3 buah
bata blok.
Ternyata ada sebuah buku kecil bersampul
kulit berwarna coklat seperti note diary yang menarik perhatian amanda
“mungkin ini milik anjas” penasaran
dengan isinya, dan hal apa yang tertulis di setiap lembarnya, amanda
memberanikan diri mengambil buku itu, sambil melihat kearah pintu, takut jika
tiba-tiba saja anjas muncul dan menganggapnya lancang
Terdapat sebuah foto yang terselip
diantara banyaknya lembaran, membuat hatinya terusik, lalu tangannya sigap
membuka lembaran tersebut, ternyata orang yang ada difoto tersebut adalah
dirinya dan anjas yang kala itu sedang berada di taman bunga, ia menebak pasti yang
ditulis pada lembaran ini adalah tentang dirinya
Ia terpaku melihat sebuah kutipan di
lembaran yang terlihat sangat istimewa itu disana tertulis
SERUPA DEDAUNAN
MELAMBAI
“perasaan
yang tak kunjung tergapai akankah menjadi sebuah arti bagi sang pemilik ?
Cinta
yang diburamkan oleh kenyataan terenggutnya kejaiban didalamnya, dapatkah
membuat pemilik meraskan sebuah kasih sayang tulus mengalir menyentuh kalbu nan
kelam.
Ketika
rasa ini harus tertahankan tak bisa diluapkan, dan tak dapat membuncah,
memaksakan kehendak untuk berhenti menciptakan haru menyayat hati
Terbangun
untuk menyadari esok telah kembali, dan kemarin telah menjadi sebuah
akhir,bayangan masalalu kembali menggeliat dalam sebuah khayal semu, kembali
membuat mata terus berderai
Tersentak
saat roh kembali ke dalam jasad,tertegun untuk kembali ke alam nyata, takut
menghadapi hari yang terus bergulir, yang seperti enggan menunggu saat
penderitanan ini hanya akan dirasakan dalam kurun waktu sehari
Semilir
angin berhembus menghempaskan dedaunan kering menjadikan bertebaran tak
terelakan, menenggelamkan rasa gelisah membawa serta kerisauan sang pujangga
Menatap
dedaunan yang seakan gugur mengiringi duka, mengitarinya membuat sang pujangga
cinta tertegun, disisipkannya secarik doa, yang akan membawa rasa sakit
bersamaan dengan terhempasnya dedaunan menyentuh tanah, biarkan luruh lantak tak
berbekas
Menunduk
tak kuasa menatap langit, malu untuk mengakui kekalahan, dirinya kini tak ubahnya
bagaikan debu, tertatih meniti jalan panjang tak berujung, menghela nafas
perlahan pertanda dirinya tak lagi sanggup
Segalanya
telah usai tak lagi dirinyaberani menantang maut, biarkan gelap menutupi jejak
dan langkahnya dedaunan kering akankah hati ku menjadi sepertimu ? “
“apa sebenarnya arti dari sajak indah
ini, masa sih anjas sedang jatuh cinta? Tapi dengan siapa ? kenapa dia
menyisipkan foto kami berdua pada lembaran ini ?” tanda tanya besar kembali
menyerang hatinya, merasa tak puas dengan tulisan yang ganjal seperti ini, ia
pun membuka lembaran berikutnya, sambil kembali milirik ke arah pintu
Dengan seksama ia mulai mendalami
tulisan pada lembaran istimewa selanjutnya, arti dari sajak indah yang baru
saja membuat amanda meneteskan air matanya, meski tak benar-benar memahami
isinya
“ini adalah lembaran istimewa, bagaimana tidak
? karena yang kutulis pada lembaran ini adalah tentang gadis yang ku cintai,
sesaat sebelum mama meninggal, beliau memberiku buku ini, ia berkata jika
apapun yang aku inginkan dapat kutuliskan disini dan semuanya akan menjadi
nyata, ku rasa apa yang dikatakan oleh mama ada benarnya, setiap kali aku
memimpikan sebuah hal lalu aku menuliskannya pada buku ini, keajaiban seakan
datang dan magic semuanya menjadi nyata,
ini bukan perihal tentang bagaimana aku menginkan gadis yang kucintai
sehingga aku menuliskan tentangnya di salah satu lembaran, akan tetapi aku
hanya mengingkan sebuah jawaban kepastian dari tuhan akan perasaan cinta yang
kini tengah bersemi menyelimuti hati ku, namun yang mengganjal ketika sebuah
nama yaitu AMANDA ERALDA memenuhi tiap relung di fikiran ku, menyebabkan sebuah
gejolak yang tak menentu di dalam jiwaku, aku merasa kotor saat memikirkannya,
aku merasa hina saat menatap cantik parasnya, aku merasa tak pantas
mencintainya, aku merasa cinta ini haram untuk di perjuangkan, aku tak memiliki
hak untuk mencintainya, memang tak ada dasar hukum yang tertulis namun aku
meneguhkan hati ku perlahan untuk berhenti mencintai
Sakit
yang kurasakan terasa semakin tak berujung saat kehadiran sosok lain dalam
kehidupannya, aku cemburu ketika ia tak memiliki waktu banyak untuk ku lagi,
aku marah karena tak bisa menghabiskan waktu dengannya, aku kecewa karena ia
seolah menyingkirkan ku. Aku bahagia melihatnya bahagia tapi bagaimana dengan
hati ku yang juga terlanjur sakit dan terluka, aku berusaha untuk selalu turut
berbahagia seiring gelak tawanya, sekuat tarikan nafasku, ku alihkan segala
rasa sakit ku agar tak mengurangi guratan senyum di wajah cantiknya, tuhan ….
Dosakah aku seperti ini, beri aku jawaban.
Aku
lelah menghadapi segalanya, aku menyerah pada hati ku yang tak bisa kubendung
lagi. Aku tau tak banyak harapan yang bisa ku muliki, hanya saja saat ini yang
kupinta adalah kebahagiaan untuknya, biarkan cinta ini kupendam saja hingga ku
tutup usia, jika segalanya akan menjadi baik dengan diamnya aku seperti ini,
selama 16 tahun aku menjadi sahabat baginya, maka aku akan menjalani sisa waktu
ku bersamanya dengan selalu menjadi seorang sahabat sejati yang akan merekatkan
genggaman ku saat ia terjatuh.
Aku
tak pernah menyesal mengenal amanda sebagai sahabat ku, aku tak pernah
menyalahkan takdir yang mengharuskan aku untuk mengalah dan kalah, aku
beruntung memilikinya walau tak akan pernah seutuhnya menjadi milik ku, namun
aku tetap memiliki hak untuk selalu menjaganya bukan ?
Amanda shock melihat apa yang baru saja
dibacanya, tangannya lemas seketika,
lalu buku ajaib itu meluncur bebas dari tangannya, amanda menyudutkan diri di
rak tersebut, matanya terpejam, dadanya sesak, air matanya kembali berderai. terbayang
kejadian lalu bagaimana anjas yang berusaha keras menutupi perasaannya, amanda
merasa dirinya begitu jahat pada anjas, membuat sahabatnya tersakiti meski itu
bukan kehendaknya
“brak” pintu kamar terbuka lebar, anjas
kaget melihat note kecilnya sudah berhamburan dilantai, sementara disudut
amanda yang merasa terpojok menangis sejadi-jadinya, dengan meneguhkan hati
perlahan ia mantapkan langkahnya menghampiri amanda
“maaf” mendengar permintaan maafnya
membuat hati amanda semakin tersayat
“maaf “ berulang kali dan anjas tak
mampu berkata selain maaf yang terus ia lontarkan, ia tak tau harus bagaimana
lagi, waktunya telah tiba dan perihal ini lah yang anjas takutkan, ia berhasil
dikalahkan oleh takdir, pilihannya tak banyak hanya ada dua yaitu merelakan
kepergian Amanda, atau tetap bertahan meski kemungkinannya tipis.
Tak ada makian dari amanda, ia masih
berkelit dengan hatinya sendiri, bagaimana mungkin ? sejak kapan? Dua
pertanyaan itulah yang belum terpecahkan.
Isak tangisnya membuat anjs geram pada
dirinya sendiri, padahal dulu ia pernah bersumpah tak akan pernah membuat
amanda kecewa bahkan menangis, menjadi orang pertama yang akan menyeka air
matanya, dan akan menghajar siapapu yang
berani mengusik amanda, tapi kini kenyataanya justru dirinyalah yang
memperburuk kondisi, dialah si brengsek itu, dialah yang tega memeras air mata
gadis manis yang dilindunginya selama bertahun-tahun.
“Lupain semua kenangan tentang kita,
anggap semua yang pernah kita lewati nggak pernah ada, dan mulai detik ini kita
bukan lagi sepasang sahabat” bagai disambar petir hati anjas pedih luar biasa,
nafas anjas tercekat, tuhan … apa harus begini akhirnya, beri aku kesempatan
agar aku bisa terus menjaganya, beri aku kesempatan dapat melihatnya tertawa
dan tersenyum, beri aku kesempatan supaya aku bisa tetap menyebut namanya, beri
aku kesempatan sekali saja aku bisa mengenalnya kembali
Hanya itu yang bisa amanda ungkapkan, ia
risau harus kepada siapa ia meluapkan semuanya, ia tidak tau siapa yang
bersalah, apakah anjas yang tak mau jujur padanya, atau justru dialah yang
bersalah karena tak pernah menyelubungi setiap pergerakan anjas yang menandakan
cinta, mungkinkah karena kehadiran alden di kehidupannya sehingga tanpa ia
sadari perlahan ia menyayat dan membunuh sahabatnya sendiri.
Amanda pergi dan membiarkan sisa
penjelasan dari anjas menjadi sebuah rahasia besar, dan tak ingin lagi ia usik,
keingintahuaannya biarlah waktu yang akan menjawab, sekarang atau nanti “tuhan
lebih tau apa yang terbaik untuk ku juga untuknya “ tanpa kembali menoleh
amanda terus berjalan, prinsip yang selalu ia teguhkan adalah, menoleh hanya
akan membuat kita menjadi semakin lemah, ia hanya tak ingin merasa bertambah
tak berdaya melihat ratapan anjas yang tak bisa mengikhlaskan kepergiannya. Juga
sorot matanya yang sendu.
Akhir kisah ini mungkin sudah sampai di
penghujung tak akan ada lagi kisah yang terukir, kini Anjas mengerti persahabatannya
tengah dipertaruhkan …
//
Pertemuan
akhir, mungkin inilah memang jawaban dari semua hal yang telah dilewati meraka
bersama-sama, sungguh disayangkan ketika perjumpaan awal yang sangat indah 16
tahun yang lalu harus terhenti tanpa ada penjelasan yang bisa membuat hati
keduanya mengerti, dan tak lagi menyalahi waktu yang terlanjur bergulir, seakan
enggan untuk menunggu kepastian yang akan ditorehkan
“something
happened to my heart” inilah yang selalu anjas pertanyakan pada hatinya, yang
masih terus berusaha menyelubungi setiap pergerakan wanita yang dicintainya.
“gue
nyerah … hufh “ keraguan seakan mendominasi fikiran anjas tentang amanda,
kembali terlintas dalam benaknya raut wajah cantik, serta keriangan yang selalu
menghiasi tawanya setiap hari, kegembiraan yang selalu Nampak seperti tak jemu
untuk selalu menunjukan kepada dunia, bahwa tawanya bisa menjadi kebahagiaan
bagi setiap orang yang melihatnya.
“tuhan
….. izinkan aku memberi dengan tulus keikhlasan untu kebahagiaannya” hatinya
begitu berat berujar demikian, tapi baginya tak ada alasan lagi untuk kembali.
Keputusan
yang tidak mudah oleh seorang laki-laki yang harus mengorbankan
perasaan.seperti menjadi kembing hitam antara cinta dan kenyataan
//
“aku
memang menyukai kamu, tapi hanya sebagai adik perempuan yang kusayangi” alden
menatap amanda lekat-lekat, disampingnya amanda berusaha setegar mungkin
menahan tangis, tetap bertahan meski hanya dengan sedikit harga diri yang
tersisa.
“maaf,
kalau apa yang aku lakukan selama ini membuat kamu merasa memiliki perasaan
yang lain terhadap ku, hanya saja kamu harus tau kalau aku …..” anjas tercekat,
ia tak mampu lagi melanjutkan penjelasannya, ia tau kalau hal ini membuat
amanda merasa sangat sakit hati. Amanda masih terdiam, hatinya terguncang
hebat, beruntung didalam keramaian salah satu restaurant tempat dimana ia dan
alden sedang berkelit, membuat dirinya pasif menghadapi alden yang serba salah
dengan setiap ucapan yang ia lontarkan
“manda,
maafin aku demi tuhan sedikitpun akunggak bermaksud nyakitin kamu” amanda
tersenyum sinis, mendengar kata-kata alden satu ini, dalam hatinya ingin sekali
mencerca pria yang sangat tulus dicintainya, beribu pertanyaan, hanya bisa
terhenti dalam diam
“kenapa
kamu nggak bilang dari awal ?
“kenapa
kamu nggak cerita tentang meriska dan neva?
“kenapa
kamu harus bersikap seolah-olah kamu juga mencintai aku?
“kenapa
kamu katakana semua ini, setelah aku benar-benar jatuh dalam pelukan kamu”
“kenapa
foto, dan tulisan itu baru aku lihat sekarang”
Kilas
balik ingatannya kembali berputar dengan kejadian pagi tadi sebelum ia memilih
resto ini sebagai tempat terakhir pertemuan mereka, karena dalam benaknya
amanda tak ingin lagi menjumpai alden dalam waktu juga kondisi apapun.
saat itu untuk pertama kalinya amanda berkunjung
ke rumah alden, ia terkejut melihat kemegahan yang tersaji disetiap sudut
ruangan, tak hentinya ia memberikan pujian, matanya tak lepas dari kekaguman
terhadap detail arsitektur rumah tersebut.
“foto
siapa nih, cantik banget” tangan amanda tak sengaja memegang foto seorang gadis
kecil yang terpampang manis diatas buffet berwarna emas beraksen mewah, dengan
lamat ia mengamati foto itu, matanya terus menjelajahi setiap foto yang
berjejer rapih di atas sana, amanda terkejut saat melihat salah satu foto yang
sangat mengganjal dihatinya, foto alden bersama seorang wanita membuat hatinya
terusik, pehuh Tanya
“siapa
cewek ini ?”
Alden
reflek mengambil foto ditangan amanda dengan genggaman yang cukup kasar,
membuat amanda tersentak lalu memandangi wajah alden yang terlihat tak nyaman
karena amanda yang terlihat ingin tau perihal siapa wanita yang ada bersamanya
di foto itu
“namanya
Neva” sepertinya alden tak ingin mengulur waktu lebih banyak, sudah saatnya ia
memberitau pada amanda segala hal tentangnya, yang selama ini ditutup rapat,
karena tak ingin, masa lalunya kembali terusik, namun fikirnya amanda memang
harus tau karena ia tak ingin hubungan yang terjalin dengan hangat terselubung
oleh kebohongan yang sebenarnya ingin alden beritahukan sedari awal perjumpaan
mereka.
“dan
yang itu dia meriska, adik aku yang meninggal 4 bulan lalu karena sakit
hemofilia sejak kecil “ lanjutnya dengan gugup
“neva?
Siapa dia? Mantan kamu ?” ada sedikit rasa takut yang tersirat dalam hati
amanda, jantungnya berpacu lebih cepat berirama serampangan
“dia
ini mantan aku, sekarang dia ada di australi”
Lega
rasanya amanda mendengar penuturan dari alden, tapi iya masih tak puas karena
ada satu pertanyaan lagi yang membutuhkan jawaban masuk akal
“mengapa
foto mereka bedua masih disimpan ?”
Amanda
beruntung ia tak harus memberikan pertanyaan yang nadanya seakan menuduh, alden
sudah paham, pertanyan apakah yang ingin amanda berikan
“foto
ini ada disini, karena aku nggak ingin kehilangan sosoknya, sampai saat ini aku
masih sangat mencintai neva, dialah wanita yang bisa membuatku mengerti arti
kehidupan, dialah satu-satunya wanita yang aku cintai bahkan sangat aku cintai,
sampai aku tak bisa melihat wanita lain, selain dia” ujar alden, sambil
mengingat kembali masa-masa indahnya bersama neva, tanpa menyadari kalau apa
yang ia katakan baru saja telah membuat hati seseorang hancur dan merasa ditipu
juga dipermainkan hingga sejauh ini
“a….
aapa? Ja… jadi dia.. dia adalah ….” Terbata-bata amanda meyakini kalau apa yang
didengarnya tidaklah salah. Alden terkejut bukan main melihat amanda telah
menangis, sambil menyentuh dadanya yang terasa sangat sesak, perlahan-lahan
amanda mencoba mengendalikan dirinya, agar tangannya tak lagi membuat alden
atau siapapun sat ini terluka.
Lamunanya
terhenti saat alden menggam tangannya, yang memberikan sebuah pertanda bahwa
sesungguhnya alden tulus menyayanginya, tapi rasa sayang yang tak sesuai dengan
harapan amanda selama ini, juga alden sebenarnya takut kehilangan amanda,
karena jika amanda pergi maka kerinduan yang teramat sangat akan kembali tak
terbendung, walaupun kelihatannya kehadiran amanda sangat dimanfaatkan oleh alden,
tapi hatinya berkata lain, ia tulus menyayangi amanda, tapi tak bisa memberi
perasaan lebih, hatinya masih diliputi bayang-bayang neva
“lalu
arti ciuman malam itu ……..” rona wajah amanda berubah menjadi merah padam,
teringat kecupan hangat yang alden beri, apa maksudnya semua ini, mengapa semua
terasa sangat sakit, lebih sakit mengingat kecupan itu dibanding mengingat hal
lain setelahnya, mungkin karena pada saat itulah amanda begitu merani,
menyerahkan hatinya pada alden, tanpa berfikir kedepannya
“soal
itu …. Maaf “ alden tertunduk lesu, ia mgutuk dirinya sendiri, ia merasa tak
ubahnya sebagai seorang laki-laki pengecut.
“harusnya
aku bilang semuanya ke kamu, tapi aku rasa kamu nggak perlu tau akan masalalu
aku” ingin sekali saat itu amanda pergi lau memberikan tamparan satu kali saja
kepada alden, terhitung sebagai bayaran atas rasa sakit yang ia derita, namun
hatinya berkata lain, ia tetap harus berada disana untuk mendengar permintaan
maaf dari sisa ketangguhan alden sebagai seorang laki-laki.
“aku
bodoh … ya aku memang bodoh, kenapa aku nggak pernah sadar dari awal, kalau
pada waktu itu kamu hanya bilang, kalau kamu suka sama aku, dan nggak ada kata
cinta didalamnya, aku yang terlalu berharap dengan segala perhatian yang kamu
kasih buat aku, bahkan yang lebih bodohnya aku telah beranggapan memiliki kamu
seutuhnya, ta…. Tapi … tapi …” isak tangis mulai mewarnai kegetiran jiwa
amanda, alden menoleh, tangannya yang sedari tadi terkepal perlahan meraih
pundak amanda, berusaha menangkan amanda yang larut dalam tangis, sesaat waktu
seakan terhenti, matanya terpejam mencoba mencari jawaban dari setiap bayangan
yang terlintas dalam gelap, ditemukanlah bayangan seorang pria yang senantiasa
berada disisinya, yang selalu siap menjadi pelindung dari segala hal marabahaya
diluar, mencoba menjadi sosok yang lebih berarti baginya, tanpa menuntut balas
atas dasar perasaan yang terlanjur terbingkai dalam hati, senyumnya
mengingatkan amanda disaat-saat dulu kebersamaan mereka, yang hanya berdasarkan
dua elemen yang sangat sederhana yaitu tawa dan canda memberikan sebuah
kehagiaan yang tak terhingga, bahkan waktu tak bisa merenggut kegembiraan
mereka berdua, dan kini semuanya telah berakhir hanya karena perasaan yang
tidak dimengerti keduanya, tanpa sadar amanda menangis bukan hanya untuk rasa
sakitnya, tetapi juga karena ia sangat merindukan anjas.
Perlahan
amanda membuka matanya, tak ditemukan anjas berada disana, hanya ada alden yang
menatap amanda dengan bingung, ia tak bertanya mengapa amanda terlihat begitu
gelisah, dengan sigap amanda mengambil tas nya lalu hendak pergi meninggalkan
alden
“aku
berterimakasih, karena kamu aku belajar untuk mengenal arti cinta, walau tidak
berujung indah, tapi aku merasa inilah cinta yang sesungguhnya,karena tidak
setiap orang dapat menemui cintanya di jalan yang sama” dengan pasti amanda
melangkah makin menjauh dari tempat dimana alden masih memperhatikan sosoknya,
amanda kembali mengembangkan senyum manisnya, lalu menoleh sesaat memastikan
tak ada penyesalan saat ia benar-benar akan menghilang dari kehidupan alden.
//
Waktu
menunjukan pukul satu siang lewat 15 menit, teriknya panas matahari mengiri
perjalalanan anjas yang terasa begitu berat kini semakin terasa, dalam
renungannya yang sangat panjang, anjas akhirnya memutuskan untuk bergegas pergi
meninggalkan kota, seminggu yang lalu adiknya Adrian menelfon dan meminta anjas
untuk segara menyusulnya ke amerika,karena disana Adrian merasa kesepian karena
berada jauh dari keluarganya yang menetap dijakarta.
Setahun
yang lalu mama juga menawarkan agar anjas berangkat bersama adiknya lalu
bersekolah disana, hanya saja keadaanya sangat berbeda, ia masih memiliki
tanggung jawab atas amanda, juga karena alasan dan janji yang ia ucapkan agar
tidak meninggalkan amanda dalam kondisi apapun, mengingat janji itu hati anjas
menjadi getir, bagaimana mungkin ia melanggar janji yang ia ucapkan secara
lantang di tempat favorit mereka berdua, yang pada saat itu membuat amanda
berdecak kagum lalu menangis dalam pelukannya
Jam
satu nanti pesawatnya akan tiba, ia hanya menunggu beberapa menit lagi, sebelum
benar-benar mengucapkan selamat tinggal, tekadnya sudah bulat tidak akan pernah
kembali lagi, dan akan mengubur semua kenangannya bersama amanda sampai disini,
tidak akan membawanya pergi bersamaan dengan luka yang semakin perih
“aku
mencintai mu amanda eralda” tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya
penuh kelembutan, dalam diam ia berdoa agar suatu saat tidak akan ada lagi
jalinan persahabatan yang terputus hanya karena perasaan cinta yang tak
terkendali, karena bercampunya menjadi kesatuan perasaan cinta yang semakin
lama akan sangat sulit dibedakan.
//
Amanda
berlari sekuat tenaga, menoba mengejar kembali hal berharga yang telah ia
lepaskan begitu saja, lelah tak dihiraukannya, dalam hati yang berkecamuk rasa
khawatir amanda meneguhkan diri agar tak menyerah lalu meyakini kalau semua ini
belum terlambat untuk ia raih lagi
“lo
nggak boleh pergi ninggalin gue njas, lo gak boleh pergi gitu aja, banyak
banget janji-janji kita yang belum terwujud, please njas kasih gue kesempatan
untuk perbaikin semuanya, gue gak mau nyesel sampe mati njas” amanda hanya
berharap kalau semua ini tidak sia-sia karena ia percaya dengan kata-kata yang
selalu diucapkan anjas setiap kali dirinya menyerah oleh keadaan “di dunia ini
nggak ada yang sia-sia, segalanya pasti membuahkan hasil, entah itu buruk atau
baik, kita harus tetap tersenyum mengambil setiap hikmahnya, dan percayalah
jika suatu kegagalan adalah kemenangan yang tertunda, juga kemengan diawal
bukan jaminan dari sebuah keberhasilan” rupa wajah anjas kembali terlintas
dalam benak amanda, keinginannya semakin berkibar untuk mengejar apa yang ia
inginkan, amanda bersumpah tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri, jika
harus kehilangan sahabat yang sangat ia cintai.
Dalam
hati yang berkecamuk rasa sakit juga rindu pada anjas, yang sangat teramat
dalam, amanda mencoba untuk menemui anjas di rumahya, tapi kekecewaan harus
amanda terima karena tak mendapati anjas berada disana, hanya ada tante Amara
ibunda anjas dengan keramahaannya yang khas mempersilahkan amanda untuk masuk
“anjas
pergi ke amerika? Tapi untuk apa anjas pergi kesana tan ? “ nada suara amanda
meninggi, ia begitu shock mendengar penuturan dari tante amanda yang baginya
terasa begitu mendadak dilakukan oleh anjas
“ia
ingin melanjutkan sekolah disana, ia juga bilang kalau ia ingin sekali tinggal
bersama Adrian” dalam penjelasannya, seperti ada sesuatu yang disembunyikan
oleh tante Amara, mungkin sebuah rahasia besar yang tidak bisa ia bicarakan
dengan amanda, sangat terlihat dengan cara bicaranya yang gugup juga
kehati-hatiannya dalam bercerita, membuat amanda semakin tidak tenang
“ini
semua pasti gara-gara gue, anjas pergi pasti karena gue” amanda merasa sangat
bersalah, telah melukai perasaan sahabatnya yang tulus telah mengajarinya cara
hidup yang akan memiliki arti bagi banyak orang, ia kembali teringat ucapannya
kepada anjas yang mengatakan kalau ia tidak lagi ingin lagi mengenal anjas
“mungkinkah
anjas sakit hati ?” ia merasa yakin hal inilah yang membuat anjas tak bisa berada disini lagi, dan tidak ingin
berada disekitarnya lagi
“anjas
titip ini untuk kamu” secarik surat diberikan tante Amara pada manda, kertas
berwarna ungu, sama persisiseperti lembaran istimewa yang sempat amanda baca
beberapa waktu yang lalu
“aku tidak akan pernah mengerti
bagaimana roda kehidupan terus berputar.
Aku tidak akan pernah memahami
perjalanan hidup yang telah digariskan oleh tuhan.
Aku tidak akan pernah bisa menentukan
setiap jejak langkah yang telah terlewati dimasa lalu
Amanda eralda …
Apa kau tau yang kurasakan, apa kau
mengerti apa yang ku harapkan dan aku inginkan
Amanda eralda …
Aku tak meminta lebih dari mu, aku hanya
ingin hidupku penuh akan cinta
Amanda eralda …
Sakit ku bukan hanya aku yang rasa,
setiap helaan nafas hati ini terlalu
sakit saat mengingatmu
Amanda eralda …
Aku tak mengerti apa yang terjadi, aku
masih terlalu takut untuk mengetahui, aku takut menerima kenyataan jika kau
harus pergi
Amanda eralda …
Aku mencintaimu, bawa diri ini selalu
bersamamu, dimanapun kau berpijak agar aku dapat menjagamu, bingkai indahnya
senyum mu di ingitanku, biar ku bawa segalanya dalam setiap langkahku, jangan
biarkan kau melepas genggaman tanganku
Amanda eralda …
Aku tak ingin pergi, sungguh aku tak
ingin, terlalu banyak hal yang tak ingin aku tinggali, biarkan aku disini …
sejenak saja sampai aku dapat membahagiakan dirimu yang aku yakini bahwa kau
juga sangat menyayangiku
Amanda eralda …
Sampai kapan aku harus bertahan dalam
ketidakpastian yang terus meliputi jiwaku, aku tidak lagi memiliki kekuatan
untuk menahan, rasanya sangat sakit, seperti adanya ratusan jarum yang
menghujam jantungku, nafasku terhenti sejenak dan itu membuatku gusar
Amanda eralda …
Denting waktu semakin cepat berlalu,
lorong kehidupan terus saja beranjak meninggalkan kehidupan lalu, bayang
semakin tertelan oleh gelap, lilin mati sudah tertiup angin, merenggut cahaya
menjadikan kelam
Amanda eralda …
Aku tak ingin ini menjadi sebuah akhir,
beri aku kesempatan untuk mengubah takdir
Amanda eralda …
Aku tak pernah menyesal mengenalmu
sebagai seorang sahabat, juga tak pernah menyalahkan keadaan yang mempertemukan
kita dalam sebuah persimpangan, dan aku tak akan menyalahi cinta yang tumbuh
begitu saja tanpa mengenal waktu
Amanda eralda …
Aku bersyukur dengan apa yang tuhan
takdirkan, aku tau ia yang maha mengetahui apa itu keadilan
Amanda eralda …
Ku harap kepergianku tak menyisakan luka
bagimu, aku hanya berjuang demi dirimu juga linangan air matamu, jika aku tak
mampu mewujudkan hal itu, aku mohon maafkan aku, kan ku hadang sekuat batinku
untuk tetap terjaga
Dan Amanda eralda …
Andai aku bisa memilih
//
Kehampaan
menguasai hati anjas, hampir saja ia nekat membatalkan kepergiannya, namun ia
tidak ingin menjadi seorang pecundang untuk kedua kalinya
“apa
harus gue pergi ? tapi gimana sama amanda nanti” terbayang lagi wajah amanda
yang selalu membuatnya ingin melihat hari esok
“nggak!
Gue gak nggak boleh pergi “ ia bergegas mengambil barang-barangnya lalu
berbalik, mencoba meyakini kembali keputusannya yang terkesan tak selaras
dengan hatinya yang berkata lain
//
“anjas
…. Anjas … anjas …” terdengar suara amanda yang begitu lantang diantara ratusan
kerumunan orang di bandara, namun langkahnya tak juga gontai berlarian kesana
kemari mencari sosok anjas, tak perduli dengan berpasang-pasang mata yang
tertuju padanya, amanda tanpa ragu meneriakan nama anjas, berharap kalau ia
belum terlambat mendapatkan anjas kembali
“anjas
… anjas lo dimana njas … anjas !!!” tidak ada yang menjawab panggilannya
tersebut, hanya keriuhan suasana, yang meneggelamkan tangisnya, amanda terduduk
diantara derap langkahan kaki yang sangat cepat berlalu, keputusasaan
menyambangi hatinya, sesosok wanita baya pun memegang pundaknya dengan raut
wajah yang tak kalah muram membantu amanda untuk berdiri
“ta
… tante amara” amanda terpaku, mama anjas pun seraya memeluk amanda
“maafkan
tante manda …. Maafkan tante “ sebelum amanda menanyakan apa yang terjadi,
tante amara mulai dengan ceritanya yang tadi baru saja menjumpai anjas
//
Tekadnya
sudah bulat, ia tidak akan pergi begitu saja, setidaknya ia harus memastikan
kalau kondisi amanda akan baik-baik saja selepas kepergiannya nanti, langkah
semakin dipercepat tak sabar hatinya ingin menjumpai amanda, walau bisa jadi
inilah perjumpaan mereka untuk yang terakhir kali, tapi bagi anjas tak apa jika
hal itu terjadi, setidaknya amanda tak akan mengenangnya sebagai pria yang
pengecut karena mencoba lari dari kenyataan.
Seketika
langkahnya terhenti, saat melihat sosok wanita yang juga sangat ia cintai dan
sangat dihormatinya itu tengah berdiri seakan mencegat keputusannya yang ingin
kembali
“anjas,
apa yang kamu lakukan ? kamu harus berangkat ke amerika menemui adik mu, juga
melanjutkan sekolah disana” tante amara memandang anjas penuh harap, keinginan
suaminya sebelum meninggal dulu harus terlaksana, yaitu menginginkan kedua
putranya bersekolah di amerika, juga mewujudkan cita-cita keduanya Adrian yang
ingin sekali menjadi seorang insinyur, dan anjas yang sedari kecilnya memiliki
impian untuk menjadi seorang dokter
“ta
… tapi mah anjas .. anjas” ia tak tega mengecewakan hati ibundanya, tapi
bagaimana dengan amanda
“mama
mohon anjas, turuti permintaan terakhir papamu, jangan buat ia sedih anjas,
mama mohon kamu pergilah ke sana, jangan hentikan langkahmu nak “ tante amara
sangat tau, hal yang membuat anjas enggan untuk pergi, alasannya hanya satu
yaitu amanda, ia memang tidak tega melihat kesedihan yang terpancar dari wajah
anjas ia mengerti kalau dua sahabat ini memang tak bisa dipisahkan, tapi ia
yakin suatu saat mereka akan kembali dipertemukan karena tak ada yang mampu
memisahkan keduanya, hanya tuhanlah yang mampu berkehendak atas segala sesuatu
yang akan terjadi
//
“ja
.. jadi anjas benar-benar pergi” amanda kini merasakan kegundahan yang sangat
luar biasa, kini ia telah kehilangan sahabat terbaiknya, bukan hanya itu,
sekarang separuh jiwanya telah pergi bersamaan kenangan mereka yang akan
selamanya melekat dalam ingatan, tak akan lekang oleh waktu meski dunia terhenti
sampai disini, semuanya akan tetap sama ya… akan selalu sama
“maafkan
tante manda, maafkan tante, semi tuhan tak terbesit sedikitpun dalam benak
tante untuk memisahkan kalian berdua, tante tau kalau kalian saling menyayangi,
maafkan tante amanda… maafkan tante ….” Ia sebenarnya tak merelakan dua sahabat
ini terpisah jauh, tanpa ada kepastian kapan mereka akan berjumpa lagi. Amara
pun tau kalau anaknya memang sangat mencintai amanda sedari dulu, bahkan
kekuataan cinta itu semakin terlihat, ketika anjas dan amanda tak bisa lepas,
namun ia yakin suatu saat jika kehendak tuhan akan mempertemukan mereka
segalanya tidak akan berubah.
“sebelum
pergi, anjas menitipkan sebuah pesan untuk kamu, ia bilang kalau ia sangat
mencintai kamu” tante amara kembali memeluk amanda lagi, amanda tak kuasa
menahan pedih lukanya, namun ia sedikit lega karena ternyata anjas tidak pernah
sedikitpun membencinya dan tak akan pernah membencinya, namun rasa bersalah
yang tak bisa begitu saja abaikan selalu menegurnya setiap waktu
//
Setahun
berlalu, pergerakan waktu terasa begitu lambat, hari ini adalah hari ulang
tahun amanda yang ke 17, angka special disalah satu tahap pergantian usia
Tepat
dibawah pohon jambu yang kini tengah berbuah lebat, tempat yang akan selalu
menjadi tersimpannya jutaan kenangan ,dirinya dan anjas yang dulu bersama-sama
menghabiskan hari tak kenal letih, amanda sangat amat merindukan sosok anjas
yang penuh kejutan setiap kali ia berulang tahun, tak ada harapan lain selain
keinginannya agar anjas kembali, penyesalannya telah terlambat dan tiada guna
lagi tangis pilunya juga rintihan disetiap doanya menanti kepulangan anjas.
Amanda tak pernah meninggalkan tempat ini begitu saja, ia akan terus berada
disana sampai tuhan mempertemukan ia dan anjas meski untuk yang terakhir kali.
Setiap saat ia tertidur lelap disini, ia hanya ingin ketika membuka mata anjas
akan datang dan terduduk diam disampingnya, saat pulang sekolah amanda tak
pernah bosan untuk kembali melihat tempat itu, dengan satu harapan yaitu
kepulangan anjas, berulang kali pula tiada menyerah amanda memandatangi rumah
anjas yang telah sepi tak berpenghuni, karena tante amara pun telah menyusul
kedua anaknya. Dan dengan menahan tangis amanda selalu berkeliling lapangan
basket sekolah yang menjadi tempat kedua favorit mereka saat disekolah untuk
bercanda atau sekedar melempar bola dengan asal.
“disini semunya berawal, perkenalan ku
dengan mu 17 tahun yang lalau, sama seperti dulu saat ulang tahun mu yang
pertama, lalu kita bertemu lagi saat kita samasama berumur 5 tahun, aku
berjumpa dengan sosok mungil yang tak lagi ku ingat, beranjak kita dewasa berbagai
hal telah kita lewati bersama, tangis, tawa,duka,bahagia, bercampur menjadi
kenangan yang tidak akan terlupakan seumur hidupku, dulu, sekarang dan selamanya
kau akan tetap menjadi sahabat terbaikku, aku menghargai setiap pengorbanan
yang telah kau lakukan demi kebahagiaan ku, maafkan aku yang tak pernah
menyadari seberapa besar hal yang telah kau lakukan agar aku tetap
mempertahankan senyum ini, maafkan aku yang begitu mudah melepasmu, namun kau
juga harus tau kalau aku sangat menyayangimu, aku tak bisa jauh dari mu walau
sedetik, kenaifan ku juga kebodohanku telah merenggut semua kebahagiaan yang
kita miliki, maafkan aku yang bimbang memahami perasaanmu yang tulus
mencintaiku, percayalah bahwa aku pun tak ingin kau pergi meninggalkan aku.
Aku sangat merindukan mu, bahkan rindu
ini telah membuat ku terhempas tiada daya, aku tak kuat berpisah lebih lama
lagi, aku mohon dengan sangat maafkan kesalahan ku, pulanglah dan peluk aku,
anjas … seharusnya rasa ini tak menjadi persoalan bagi kita berdua, kemana
sahabat ku, dimana kamu berada aku bahkan tidak tau, aku memang lelah mencari
dan terus mencari mu, tapi hati ku tak pernah mengizinkan ku untuk berhenti,
sebelum kematian menjemput ku kelak, aku ingin memandang mu lagi, aku ingin
tertawa dengan mu,aku ingin pundak mu menjadi sandaran terakhir ku, kebutaan ku
telah mengajariku banyak hal, termasuk keberadaan mu yang sangat berarti,
bersamamu aku telah melawati waktu, bersamamu aku mengenal apa itu hidup,
bersamamu pula lah aku belajar tentang cinta. aku bersumpah jika apa yang kuucapakan tak
lebih dari sekedar perkataanku yang penuh kemunafikan belaka, kembalilah dengan
membawa keberhasilanmu dihadapanku, aku akan menunggumu disini, ditempat ini, tempat
dimana kau menyadarkan ku dengan meninggalkan bayangan masa lalu kita disaat
yang tak terduga dimana aku memutuskan untuk mencintaimu ….”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar