Kamis, 21 Februari 2013

FOR YOU OR FOR HIM




Amanda terlihat sumringah disaat menikmati waktu sore dibelakang rumahnya yang tertanam sebuah pohon jambu tempat dimana amanda untuk bersantai dengan merenung dibawah pohon berdaun rimbun tersebut.tempat dimana ia selalu menghabiskan waktu setiap saat bersama anjas, tak akan pernah amanda lupakan bagaimana pertemuan mereka untuk pertama kalinya,  saat usia keduanya baru 3 tahun, dengan gigi kecil yang baru mulai tumbuh. pada saat itu mama anjas mengajaknya bermain ke halaman belakang rumah amanda, katanya agar mereka bisa bersosialisasi, anjas yang tak pernah lepas dari robot kesayangannya, juga amanda yang enggan berada jauh dari boneka teddy bear yang selalu menemaninya kemanapun,keduanya begitu lucu saat memperebutkan mainan,renyahnya tawa amanda setiap kali anjas terjatuh saat berlari mengejar robot mainan canggihnya yang berjalan kaku.  keduanya juga tak menyangka kalau pertemuan itu akan menjadi sebuah persahabatan yang panjang, pohon berdaun lebat tersebut telah menjadi saksi bisu, bagaimana kebahagiaan mereka yang terus bergulir sepanjang masa, yang  sudah bertahun-tahun menaungi keduanya bermain,bercanda,juga berbagi tawa. Angin juga seakan ingin ikut larut dalam suka cita anjas dan amanda.
“gue gak suka lo deket-deket sama cowok kelewat metropolis kaya dia” tegur anjas yang seketika membuyarkan lamunan Amanda tentang pangeran dari negeri sebrang yang ingin menikahinya (lebay).
Senja disaat matahari kembali ke peraduaan adalah saat yang tepat bagi amanda untuk meresapi segala mimpi-mimpinya, dengan memandang langit berwarna oranye berpadu dengan warna kemerahan lembut, sensasi seperti sekarang yang tidak ingin amanda lewatkan, sore kali ini terasa berbeda, ya .. memang ada sesuatu yang lain.
“lo tuh ya, baru dateng udah bikin jantungan “ ia menjawil pipi anjas yang putih lembut seperti kulit bayi sampai kemerahan, anjas hanya diam diperlakukan seperti itu ia sudah terbiasa dengan cubitan manda yang sebenarnya sakit banget, tapi toh anjas merasa bahagia karna setidaknya ia mendapat sentuhan dari tangan manda meski harus merasakan perihnya.
Wajar saja anjas tak merasa suka dengan kehadiran Alden dalam kehidupan Amanda, sekaligus menjadi perusak hari-hari bahagia mereka berdua. Sudah dua minggu belakangan ini Amanda banyak menghabiskan waktu dengan alden, perkenalan merek bermula saat tidak sengaja mobil alden menabrak sepeda yang sedang dinaiki Amanda, hingga ia terperosok kedalam selokan, awalya Amanda merasa tak terima emosionalnya yang tinggi memaksa alden harus mendengar ocehan Amanda yang panjang bahkan disana mungkin tak terdapat titik dan koma, satu pukulan yang Amanda beri dihidung cowok itu pun masih membekas hingga kini, bukannya berbalik marah alden justru dengan tulus menolong Amanda dan mengobati lengan dan kakinya yang berbalur luka, melihat sikap alden yang sangat lembut membuat amanda terpesona dan seketika jatuh hati oleh sosok tampan seperti alden, serta tidak menolak saat alden mengajaknya berteman lebih akrab
“pria idaman” itulah kesan amanda saat jumpa keduanya diawal
Atau mungkin ini yang namanya cinta pada pandangan pertama ? hah…. masih terlalu dini untuk meyakinkan hati kepada sang pangeran tampan berjiwa kesatria
“emang kenapa sih kalo gue deket sama alden ? dia kan ganteng, lo harusnya ngedukung gue dong sama dia” amanda tak perduli dengan tingkah anjas yang over protektif kepadanya, ia tau kalau anjas berlaku seperti itu karena tak ingin dirinya merasa kecewa kepada laki-laki, namun kali ini amanda merasa ia sudah cukup dewasa dalam menentukan siapa cowok yang bisa mendampingi dirinya
“tapi kan lo baru kenal sama dia, jadi gue saranin jangan terlalu care deh sama si sarden” Gelisah membelenggu hati anjas, ia tak paham apa yang sebenarnya terjadi, apa mungkin ia mulai mencintai gadis disampingnya ini, entah lah yang jelas anjas merasa tak suka ada orang lain yang membuat amanda tertawa lepas, ia merasa jika tawa dan senyum manda telah menjadi hak paten baginya, dan tak seorang pun bisa menggantikan posisinya sebagai pendamping amanda.
Amanda tak membalas perkataan anjas yang mencela nama pangeran impiannya, ia hanya tak ingin masalah ini menimbulkan pertengkaran lagi, lebih baik kali ini ia yang mengalah dan mengabaikan segala opini anjas tentang alden. Keduanya larut dalam benak kegundahan yang menyelimuti jiwa
Dua sahabat yang terombang ambing dengan perasaan masing-masing dan tak pernah tahu dimana perahu cinta itu akan berlambuh biarlah  deburan ombak yang membawanya, maka seperti itulah penggambaran takdir tuhan.
Sampai kapan ini akan berakhir?

//
Dalam kesehariannya, anjas dikenal sebagai pria yang sangat suka bersyair dan membuat sajak-sajak indah, wanita manapun akan serta merta luluh hatinya bila membaca aneka ragam puisi hasil kreatifitas juga pengolahan kata yang ciamik miliknya, anjas juga sangat lihai membuat lagu-lagu bertema romantis siapapun juga bisa seketika larut dalam dawaian lantunan suara merdunya. Sedari dulu memang sudah banyak wanita yang menggilainya, namun tak banyak yang tau kalau anjas sampai saat ini belum pernah memiliki pacar sekalipun, anjas hanya tak ingin nantinya akan mengabaikan amanda yang telah ia jaga bertahun-tahun, baginya kebahagiaan yang ia peroleh sekarang sudah cukup, karena tidak ada rasa bahagia yang akan Nampak ke permukaaan selain saat bersama amanda.

“Siapa bilang cinta tak berwujud, siapa bilang cinta tak terlihat, atas dasar pandangan siapa jika cinta hanya bisa dirasakan tanpa bisa disentuh, menurut ku cinta itu ya amanda, iya nyata dan iya ada bukan hanya sekedar khayalan semata, bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya, ya tuhan …… bagaimana cara ku untuk mengungkap segala kegundahan yang kualami, aku tidak mengerti kenapa rasa ini harus mengembang pesat, memang banyak orang yang mengatakan jika laki-laki dan perempuan yang terikat dalam jalinan persahabatan takakan bisa menghindari perasaan cinta satu sama lain, awalnya aku merasa yakin kalau tak akan ada perasaan semacam itu, tapi yang terjadi sekarang aku mencintai amanda bahkan sangat mencintainya hingga tak dapat ku bendung lagi, kenyataan pahitnya adalah ini hanya cinta sepihak, dan ku tahu amanda menyayangiku hanya sebagai sahabat  yang selalu setia menjaganya, ya tuhan ….. aku terlalu takut dengan segala kemungkinan terburuk yang mungkin akan menghempaskan diriku, juga rusaknya persahabatan ku dengannya dipenghujung, tapi tak bisa juga ku hindari kondisi seperti sekarang disaat amanda mulai berbagi perhatian dengan orang lain, aku cemburu…… tapi aku mengerti dan paham kapasitas ku hanya sebagai seorang kawan, tak memiliki hak untuk marah juga melarang. Namun sampai kapan ku korbankan hatiku, aku mungkin terluka tapi tak bisa membiarkan amanda terluka bersamaku, tuhan ……kumohon beri aku penjelasan.”

Kutipan yang baru saja ditulis anjas dibuku hariannya, lembaran yang selalu menjadi tempat favorit anjas untuk bercerita, baginya menuliskan jauh lebih baik dibanding harus mengungkapkan. Maklumi saja anjas memang tipe pria yang tidak suka blak-blakan, akan tetapi langkahnya perlahan kian pasti, meski kadang suka keduluan orang karena si anjas kelamaan. (loh ..? )
“hah …. ” iya mendesah berusaha menenangkan dirinya sendiri, ia sudah tak ingin berkelit dengan kegalauannya, kini ia pasrah apapun yang akan terjadi biarlah ini menjadi sebuah cerita.
//
Malam minggu, satu malam favorit bagi semua orang yang memadu kasih menghabiskan waktu, entah hanya untuk sekedar bertemu, nonton film, sampai dinner romantis di warung makan pinggir jalan. Amanda merasa enggan melakukan hal tersebut, bukan karena dia tidak punya pacar (sebenarnya itu juga termasuk) tapi lebih kepada karena ia tidak suka berpergian seperti itu, baginya tak ada malam special, semua malam sama menurutnya lebih baik ia mempergunakan malam itu untuk bersantai dirumah, bermain monopoli dengan anjas, atau bahkan ia memilih untuk tidur, tapi sekarang ia sepertinya sudah merasakan betapa serunya bisa berada diluar menikmati indahnya malam hari bersama seseorang, kali ini bukan anjas yang menemaninya, tetapi alden, sepanjang perjalanan amanda terus saja menebar senyumnya, hatinya berbunga-bunga saat alden mengajaknya kencan lewat telefon jumat lalu.
“kamu kenapa sih senyum-senyum terus dari tadi?” Tanya anjas, yang heran memperhatikan gelagat amanda. Ia jadi tak konsen saat menyetir
Lagi-lagi hanya senyum yang diperlihatkan amanda, pertanda ia bahagia, alden sepertinya mengerti atau mungkin juga ia tahu kalau amanda menyukainya, dalam satu tebakan saja sudah tepat sasaran.
Moment satnite kali ini memang sangat istimewa bagi amanda, apalagi alasannya selain ia akan melawati malam bersama alden,.sebuah taman menjadi pilihan mereka untuk menghabiskan sepanjang malam yang cerah ini, pandangan keduanya langsung menyapa aneka macam bunga warna warni cantik yang sedang bermekaran, pepohon  besar yang sedikit demi sedikit telah menggurkan dedaunannya yang mengerik diatas tanah berumput pendek, juga air mancur  mini yang berada di tengah taman, gemericik airnya mampu menyejukkan malam yang tak terlalu bersuhu dingin. Bulan  begitu serasi dengan larasan bintang yang bertabur penuh kerlip cahaya, terangnya bulan seperti tak ingin kalah, sehingga biasan cahayanya juga mempuni untuk membuat sipapun yang melihat angkasa luas di langit akan takjub.. Cerahnya langit menambah lebar sunggingan senyum di bibir mungil amanda berlipstik pingk soft, deru laju kendaraan yang sesekali terdengar dari sekitaran luar taman yang memang berada di antara jalan-jalan kota tidak mengurangi pesona malam ini. Keduanya duduk diatas sebuah bangku kayu, sambil sesekali merapatkan tubuh mereka..agar lebih terasa hangat
“gadis imut berparas cantik” kata-kata alden, membuat amanda termenung lalu menoleh menatap sang pangeran yang juga sedang menatapnya dalam menyelubungi hatinya
“iya kamu, gadis berparas cantik, aku suka sama kamu, dan aku rasa kita memiliki perasaan yang sama “ sejenak hening, keduanya diam, saling menatap, untuk meyakinkan hati mereka yang berbicara masing-masing
Degup jantung amanda semakin tak beraturan, deburan nafasnya terus memburu, membuatnya kehilangan kendali akan perasaannya  inilah saat yang sangat ditunggu oleh amanda. sang pangeran yang siap menjemputnya ke ranah kebahagiaan, hanya seulas senyum manis penuh isyarat yang ia tunjukan.
Alden yang tak tahu harus berbuat apa, perlahan mendekat dan mengecup lembut bibir amanda, keduanya larut dalam kadung percintaan yang mereka sesungguhnya tak mengerti apakah rasa ini benar adanya, bersamaan dengan cahaya rembulan dan kerlip bintang yang kian benderang.
Hah sungguh satu malam yang sangat sempurna J

//
3 minggu terlewati serasa kata sedih sudah resmi dihapuskan dalam kamus kehidupan amanda, yang ada hanya hari-hari yang penuh dengan tawa bahagia dan hanya kebahagiaan,  tiada hari tanpa keberadaan alden disinya, setiap hari setiap saat eratnya hubungan mereka kian hari tak bisa terlepas, alden telah memberi amanda segalanya, tipe pria idaman yang selalu amandan impikan, sementara di lain hati ia telah menyakiti seseorang yang mungkin menaruh cinta padanya jauh lebih besar dari siapapun lelaki yang pernah mencintainya.
 Bagi amanda yang tak tau menau akan hal lain selain dirinya dan alden yang telah terjun dalam jerat cinta. hidup kini terasa begitu sempurna. sangat tersirat dari rona wajah amanda yang selalu berseri.
Tak seperti layaknya anjas yang harus menelan kenyataan pahit, ia mengutuk perasaan cinta yang terlanjur menjalar dan tak bisa di kikis lagi, ia bahagia melihat amanda menemukan orang yang tepat, tapi bagaimana dengan hatinya sendiri, bagaimana dengan perasaannya yang hancur, haruskah ia marah ? akan tetapi apa haknya untuk marah, lalu kepada siapa ia akan melampiaskan amarahnya yang menggelora.
“andai aja gak gue biarin cinta ini ada”
“coba aja dari awal gue bisa ngendaliin perasaan gue”
“lo terlalu bego njas, amanda gak mungkin jadi milik lo”
“harusnya lo udah tau kalau selamanya amanda Cuma akan jadi sahabat lo”
“dia gak akan pernah jadi milik lo”
“perasaan ini adalah dosa, dan gak akan mungkin bisa diterima
“ini adalah cinta yang penuh dengan dusta juga kenistaan! aaaaaaaaaa”
Anjas menatap dirinya di cermin,ia menatap wajahnya yang lusuh, anjas merasa telah dibodohi oleh segala macam rasa yang dimilikinya, sambil mengucapkan sumpah serapah pada dirinya sendiri, mencaci hatinya yang tak kunjung bisa merelakan amanda, setidaknya sampai saat ini ia masing sanggup memaksakan senyumnya tiap kali dengan menggebu-gebu amanda menceritakan hal apa saja yang ia lakukan bersama alden di hari itu, bahkan setidaknya anjas tak kelewatan berbicara sinis menanggapi cerita sahabatnya itu.
Ia berkilah masih sanggup berdiri tegar, tak ayal dia mencibir dirinya dengan berkata
“gue gak harus bersujud dan mencium kaki amanda supaya dia mau ninggalin sih alden terus nerima cinta gue kan ?
“atau gue harus ngelukain diri gue sendiri, supaya amanda peka sama perasaan gue, bunuh diri mungkin ?”
Hah gue gak serendah itu untuk memperjuangkan apa yang memang gak akan bisa jadi milik gue.
//

Hari terakhir masa ujian akhir sekolah pun usai, amanda berteriak riang sambil melompat-lompat layaknya balita yang baru saja memperoleh sebuah permen coklat, anjas hanya melirik sesaat lalu kembali berkonsentrasi dengan buku yang sedang dibacanya (seperti biasa). Walaupun ujian telah usai, hobby anjas yang gemar membaca memang tak bisa di hilangkan dari hidupnya, bagi anjas buku adalah segalanya, yang bisa diartikan sebagai jendela dunia, dengan buku  bisa membuatnya memiliki pengetahuan umum di atas rata-rata anak-anak yang lain, anjas memang sangat pintar, ia tidak pernah puas dengan semua pencapaiaan prestasinya selama ini, ia juga tak pernah bosan apalagi berkata “gue capek belajar mulu” . anjas memang tipe anak yang tidak ingin kalah dari siapapun, aneka ragam ilmu social mungkin telah ia kuasai, tapi ia bilang kalau ingin sekali melebihi kecerdasaan albert Einstein, tekadnya yang kuat memang tak menutup kemungkinan ia akan menjadi seorang yang hebat. Tidak seperti amanda yang belajar selalu ogah-ogahan, alasan yang selalu ia beri setiap kali diharuskan belajar bersama dengan anjas, membuat dia selalu bergantung pada anjas yang akan memberikan contekan padanya setiap kali ujian, toh anjas juga tidak keberatan menolong sahabatnya itu meski terkadang nggak tau diri kalau nanya.
“anjas ……” seloroh amanda sedikit mengerlikan matanya pada anjas, gaya centilnya membuat anjas serasa ingin muntah
“apaan sih lo, bikin gue takut aja “ konsentrasinya seketika buyar, buku yang tadi dibacanya pun langsung dimasukan kedalam tas, ia sangat tau kondisi seperti ini tak mungkin ia bisa enjoy lanjut membaca, pasti amanda dengan senang hati menggodanya, karena tak ingin anjas mengabaikan dirinya saat bicara, alhasil anjas lah yang harus mengalah.
“lo aneh deh njas belakangan ini, lo kaya pengen ngejauh gitu dari gue, kenapa sih ? gue punya salah ya sama lo ?” suasana berubah menjadi lebih tegang, kali ini bukan pertanyaan konyol yang dilontarkan amanda, melainkan sebuah pertanyaan yang sangat serius dan menginginkan sebuah jawaban yang pasti agar segalanya tak lagi mengganjal.
“masih belum sadar juga  dia, apa harus gue bilang semuanya sama dia sekarang juga” kata-kata itu menggelitik hatinya, dalam bayangannya adalah wajah amanda yang bahagia mendengar uraian kata cinta darinya, lalu menghambur ke pelukannya, tak ingin khayalnya semakin berlanjut, ia berusaha kembali ke dunianya yang nyata, yaitu kemungkinan terbesarnya adalah tamparan keras yang akan diterima, lalu saat itu juga akan terjadi putusnya tali persahabatan yang sudah terjalin selama 16 tahun lamanya, terpaksa ia menelan kembali kata-kata buaian cinta yang baru saja ingin iya utarakan
“gue gak apa-apa kok” anjas terus bergejolak diantara pilihan akal sehatnya yang akan bicara atau hati kecilnya yang terus memberontak agar segalanya terselesaikan saat itu juga “cinta tak memandang logika” ungkapan itulah yang kini selalu terngiang di telinga anjas setiap kali cinta ini harus berpacu dengan waktu.
“gue minta maaf ya kalo gue udah gak punya waktu banyak buat lo, tapi gimanapun juga selamanya gak akan ada yang bisa gantiin lo sebagai sahabat gue, lo gak perlu cemburu sama alden” ujar amanda, yang seakan paham dengan perasaan anjas yang merasa kehilangannya, untuk meyakinkan anjas bahwa ia tak akan pergi dari sisinya, amanda pun memeluk anjas, entah reflek atau karena itu adalah pelukan tulus sebagai seorang sahabat. Anjas merasa tenang, membuat harapannya kembali bersemi
“amanda cinta sama alden njas” sebenarnya amanda juga tidak paham akan ucapannya tadi, tapi ia yakin suatu saat pasti akan ada kepastian bagi dirinya
Tanpa terasa setetes air mata mengalir di pipi anjas, ia menghela nafas dalam
Hah ………..
//
Amanda mengendap ngendap naik perlahan menuju kamar anjas, tidak ingin kalau anjas menyadari kehadirannya, hari ini ia janji mengajak anjas untuk ikut bersamanya nonton film romantic habibie dan Ainun bersama alden, rencanya amanda akan membuat anjas dan alden lebih saling mengenal satu sama lain, dan ada baiknya jika mereka juga bersahabat, pasti hal yang sangat menyakitkan bagi anjas melihat amanda duduk berdampingan dengan alden lalu saling berpegangan saat menonton, serta mengurai kata-kata manja yang menjijikan
ia mengira kalau anjas sedang tidur siang, sehingga otak jahilnya kembali beraksi, tapi ketika tidak mendapati anjas dikamarnya kekecewaan Nampak sangat jelas diwajahnya
“yah gagal deh ngerjain si poo(panggilan kesayangan)” ia pun duduk di dekat meja belajar warna hijau milik anjas
Kamar anjas terlihat kosong, barangkali ia sedang pergi keluar membeli beberapa cemilan kesukaannya di minimarket dekat komplek perumahan yang ia tinggali. Atau mungkin ia sedang menggoda janda cantik disebelah rumahnya, memikirkan hal tersebut membuat amanda cekikian sendiri. Iseng karena anjas tak kunjung datang amanda melihat-lihat koleksi buku ensiklopedia kepunyaan anjas yang tersusun rapi di sebuah rak buku besar
“hah buku-buku nya ngebosenin" ia menjuling sebal saat melihat urutan buku-buku yang tebalnya bisa kisaran 3 buah bata blok.
Ternyata ada sebuah buku kecil bersampul kulit berwarna coklat seperti note diary yang menarik perhatian amanda
“mungkin ini milik anjas” penasaran dengan isinya, dan hal apa yang tertulis di setiap lembarnya, amanda memberanikan diri mengambil buku itu, sambil melihat kearah pintu, takut jika tiba-tiba saja anjas muncul dan menganggapnya lancang
Terdapat sebuah foto yang terselip diantara banyaknya lembaran, membuat hatinya terusik, lalu tangannya sigap membuka lembaran tersebut, ternyata orang yang ada difoto tersebut adalah dirinya dan anjas yang kala itu sedang berada di taman bunga, ia menebak pasti yang ditulis pada lembaran ini adalah tentang dirinya
Ia terpaku melihat sebuah kutipan di lembaran yang terlihat sangat istimewa itu disana tertulis
SERUPA DEDAUNAN MELAMBAI
“perasaan yang tak kunjung tergapai akankah menjadi sebuah arti bagi sang pemilik ?
Cinta yang diburamkan oleh kenyataan terenggutnya kejaiban didalamnya, dapatkah membuat pemilik meraskan sebuah kasih sayang tulus mengalir menyentuh kalbu nan kelam.
Ketika rasa ini harus tertahankan tak bisa diluapkan, dan tak dapat membuncah, memaksakan kehendak untuk berhenti menciptakan haru menyayat hati
Terbangun untuk menyadari esok telah kembali, dan kemarin telah menjadi sebuah akhir,bayangan masalalu kembali menggeliat dalam sebuah khayal semu, kembali membuat mata terus berderai
Tersentak saat roh kembali ke dalam jasad,tertegun untuk kembali ke alam nyata, takut menghadapi hari yang terus bergulir, yang seperti enggan menunggu saat penderitanan ini hanya akan dirasakan dalam kurun waktu sehari
Semilir angin berhembus menghempaskan dedaunan kering menjadikan bertebaran tak terelakan, menenggelamkan rasa gelisah membawa serta kerisauan sang pujangga
Menatap dedaunan yang seakan gugur mengiringi duka, mengitarinya membuat sang pujangga cinta tertegun, disisipkannya secarik doa, yang akan membawa rasa sakit bersamaan dengan terhempasnya dedaunan menyentuh tanah, biarkan luruh lantak tak berbekas
Menunduk tak kuasa menatap langit, malu untuk mengakui kekalahan, dirinya kini tak ubahnya bagaikan debu, tertatih meniti jalan panjang tak berujung, menghela nafas perlahan pertanda dirinya tak lagi sanggup
Segalanya telah usai tak lagi dirinyaberani menantang maut, biarkan gelap menutupi jejak dan langkahnya dedaunan kering akankah hati ku menjadi sepertimu ? “
“apa sebenarnya arti dari sajak indah ini, masa sih anjas sedang jatuh cinta? Tapi dengan siapa ? kenapa dia menyisipkan foto kami berdua pada lembaran ini ?” tanda tanya besar kembali menyerang hatinya, merasa tak puas dengan tulisan yang ganjal seperti ini, ia pun membuka lembaran berikutnya, sambil kembali milirik ke arah pintu
Dengan seksama ia mulai mendalami tulisan pada lembaran istimewa selanjutnya, arti dari sajak indah yang baru saja membuat amanda meneteskan air matanya, meski tak benar-benar memahami isinya
 “ini adalah lembaran istimewa, bagaimana tidak ? karena yang kutulis pada lembaran ini adalah tentang gadis yang ku cintai, sesaat sebelum mama meninggal, beliau memberiku buku ini, ia berkata jika apapun yang aku inginkan dapat kutuliskan disini dan semuanya akan menjadi nyata, ku rasa apa yang dikatakan oleh mama ada benarnya, setiap kali aku memimpikan sebuah hal lalu aku menuliskannya pada buku ini, keajaiban seakan datang dan magic semuanya menjadi nyata,  ini bukan perihal tentang bagaimana aku menginkan gadis yang kucintai sehingga aku menuliskan tentangnya di salah satu lembaran, akan tetapi aku hanya mengingkan sebuah jawaban kepastian dari tuhan akan perasaan cinta yang kini tengah bersemi menyelimuti hati ku, namun yang mengganjal ketika sebuah nama yaitu AMANDA ERALDA memenuhi tiap relung di fikiran ku, menyebabkan sebuah gejolak yang tak menentu di dalam jiwaku, aku merasa kotor saat memikirkannya, aku merasa hina saat menatap cantik parasnya, aku merasa tak pantas mencintainya, aku merasa cinta ini haram untuk di perjuangkan, aku tak memiliki hak untuk mencintainya, memang tak ada dasar hukum yang tertulis namun aku meneguhkan hati ku perlahan untuk berhenti mencintai
Sakit yang kurasakan terasa semakin tak berujung saat kehadiran sosok lain dalam kehidupannya, aku cemburu ketika ia tak memiliki waktu banyak untuk ku lagi, aku marah karena tak bisa menghabiskan waktu dengannya, aku kecewa karena ia seolah menyingkirkan ku. Aku bahagia melihatnya bahagia tapi bagaimana dengan hati ku yang juga terlanjur sakit dan terluka, aku berusaha untuk selalu turut berbahagia seiring gelak tawanya, sekuat tarikan nafasku, ku alihkan segala rasa sakit ku agar tak mengurangi guratan senyum di wajah cantiknya, tuhan …. Dosakah aku seperti ini, beri aku jawaban.
Aku lelah menghadapi segalanya, aku menyerah pada hati ku yang tak bisa kubendung lagi. Aku tau tak banyak harapan yang bisa ku muliki, hanya saja saat ini yang kupinta adalah kebahagiaan untuknya, biarkan cinta ini kupendam saja hingga ku tutup usia, jika segalanya akan menjadi baik dengan diamnya aku seperti ini, selama 16 tahun aku menjadi sahabat baginya, maka aku akan menjalani sisa waktu ku bersamanya dengan selalu menjadi seorang sahabat sejati yang akan merekatkan genggaman ku saat ia terjatuh.
Aku tak pernah menyesal mengenal amanda sebagai sahabat ku, aku tak pernah menyalahkan takdir yang mengharuskan aku untuk mengalah dan kalah, aku beruntung memilikinya walau tak akan pernah seutuhnya menjadi milik ku, namun aku tetap memiliki hak untuk selalu menjaganya bukan ?
Amanda shock melihat apa yang baru saja dibacanya, tangannya lemas seketika, lalu buku ajaib itu meluncur bebas dari tangannya, amanda menyudutkan diri di rak tersebut, matanya terpejam, dadanya sesak, air matanya kembali berderai. terbayang kejadian lalu bagaimana anjas yang berusaha keras menutupi perasaannya, amanda merasa dirinya begitu jahat pada anjas, membuat sahabatnya tersakiti meski itu bukan kehendaknya
“brak” pintu kamar terbuka lebar, anjas kaget melihat note kecilnya sudah berhamburan dilantai, sementara disudut amanda yang merasa terpojok menangis sejadi-jadinya, dengan meneguhkan hati perlahan ia mantapkan langkahnya menghampiri amanda
“maaf” mendengar permintaan maafnya membuat hati amanda semakin tersayat
“maaf “ berulang kali dan anjas tak mampu berkata selain maaf yang terus ia lontarkan, ia tak tau harus bagaimana lagi, waktunya telah tiba dan perihal ini lah yang anjas takutkan, ia berhasil dikalahkan oleh takdir, pilihannya tak banyak hanya ada dua yaitu merelakan kepergian Amanda, atau tetap bertahan meski kemungkinannya tipis.
Tak ada makian dari amanda, ia masih berkelit dengan hatinya sendiri, bagaimana mungkin ? sejak kapan? Dua pertanyaan itulah yang belum terpecahkan.
Isak tangisnya membuat anjs geram pada dirinya sendiri, padahal dulu ia pernah bersumpah tak akan pernah membuat amanda kecewa bahkan menangis, menjadi orang pertama yang akan menyeka air matanya,  dan akan menghajar siapapu yang berani mengusik amanda, tapi kini kenyataanya justru dirinyalah yang memperburuk kondisi, dialah si brengsek itu, dialah yang tega memeras air mata gadis manis yang dilindunginya selama bertahun-tahun.
“Lupain semua kenangan tentang kita, anggap semua yang pernah kita lewati nggak pernah ada, dan mulai detik ini kita bukan lagi sepasang sahabat” bagai disambar petir hati anjas pedih luar biasa, nafas anjas tercekat, tuhan … apa harus begini akhirnya, beri aku kesempatan agar aku bisa terus menjaganya, beri aku kesempatan dapat melihatnya tertawa dan tersenyum, beri aku kesempatan supaya aku bisa tetap menyebut namanya, beri aku kesempatan sekali saja aku bisa mengenalnya kembali
Hanya itu yang bisa amanda ungkapkan, ia risau harus kepada siapa ia meluapkan semuanya, ia tidak tau siapa yang bersalah, apakah anjas yang tak mau jujur padanya, atau justru dialah yang bersalah karena tak pernah menyelubungi setiap pergerakan anjas yang menandakan cinta, mungkinkah karena kehadiran alden di kehidupannya sehingga tanpa ia sadari perlahan ia menyayat dan membunuh sahabatnya sendiri.
Amanda pergi dan membiarkan sisa penjelasan dari anjas menjadi sebuah rahasia besar, dan tak ingin lagi ia usik, keingintahuaannya biarlah waktu yang akan menjawab, sekarang atau nanti “tuhan lebih tau apa yang terbaik untuk ku juga untuknya “ tanpa kembali menoleh amanda terus berjalan, prinsip yang selalu ia teguhkan adalah, menoleh hanya akan membuat kita menjadi semakin lemah, ia hanya tak ingin merasa bertambah tak berdaya melihat ratapan anjas yang tak bisa mengikhlaskan kepergiannya. Juga sorot matanya yang sendu.
Akhir kisah ini mungkin sudah sampai di penghujung tak akan ada lagi kisah yang terukir, kini Anjas mengerti persahabatannya tengah dipertaruhkan …
//
Pertemuan akhir, mungkin inilah memang jawaban dari semua hal yang telah dilewati meraka bersama-sama, sungguh disayangkan ketika perjumpaan awal yang sangat indah 16 tahun yang lalu harus terhenti tanpa ada penjelasan yang bisa membuat hati keduanya mengerti, dan tak lagi menyalahi waktu yang terlanjur bergulir, seakan enggan untuk menunggu kepastian yang akan ditorehkan
“something happened to my heart” inilah yang selalu anjas pertanyakan pada hatinya, yang masih terus berusaha menyelubungi setiap pergerakan wanita yang dicintainya.
“gue nyerah … hufh “ keraguan seakan mendominasi fikiran anjas tentang amanda, kembali terlintas dalam benaknya raut wajah cantik, serta keriangan yang selalu menghiasi tawanya setiap hari, kegembiraan yang selalu Nampak seperti tak jemu untuk selalu menunjukan kepada dunia, bahwa tawanya bisa menjadi kebahagiaan bagi setiap orang yang melihatnya.
“tuhan ….. izinkan aku memberi dengan tulus keikhlasan untu kebahagiaannya” hatinya begitu berat berujar demikian, tapi baginya tak ada alasan lagi untuk kembali.
Keputusan yang tidak mudah oleh seorang laki-laki yang harus mengorbankan perasaan.seperti menjadi kembing hitam antara cinta dan kenyataan

//
“aku memang menyukai kamu, tapi hanya sebagai adik perempuan yang kusayangi” alden menatap amanda lekat-lekat, disampingnya amanda berusaha setegar mungkin menahan tangis, tetap bertahan meski hanya dengan sedikit harga diri yang tersisa.
“maaf, kalau apa yang aku lakukan selama ini membuat kamu merasa memiliki perasaan yang lain terhadap ku, hanya saja kamu harus tau kalau aku …..” anjas tercekat, ia tak mampu lagi melanjutkan penjelasannya, ia tau kalau hal ini membuat amanda merasa sangat sakit hati. Amanda masih terdiam, hatinya terguncang hebat, beruntung didalam keramaian salah satu restaurant tempat dimana ia dan alden sedang berkelit, membuat dirinya pasif menghadapi alden yang serba salah dengan setiap ucapan yang ia lontarkan
“manda, maafin aku demi tuhan sedikitpun akunggak bermaksud nyakitin kamu” amanda tersenyum sinis, mendengar kata-kata alden satu ini, dalam hatinya ingin sekali mencerca pria yang sangat tulus dicintainya, beribu pertanyaan, hanya bisa terhenti dalam diam
“kenapa kamu nggak bilang dari awal ?
“kenapa kamu nggak cerita tentang meriska dan neva?
“kenapa kamu harus bersikap seolah-olah kamu juga mencintai aku?
“kenapa kamu katakana semua ini, setelah aku benar-benar jatuh dalam pelukan kamu”
“kenapa foto, dan tulisan itu baru aku lihat sekarang”
Kilas balik ingatannya kembali berputar dengan kejadian pagi tadi sebelum ia memilih resto ini sebagai tempat terakhir pertemuan mereka, karena dalam benaknya amanda tak ingin lagi menjumpai alden dalam waktu juga kondisi apapun.

 saat itu untuk pertama kalinya amanda berkunjung ke rumah alden, ia terkejut melihat kemegahan yang tersaji disetiap sudut ruangan, tak hentinya ia memberikan pujian, matanya tak lepas dari kekaguman terhadap detail arsitektur rumah tersebut.
“foto siapa nih, cantik banget” tangan amanda tak sengaja memegang foto seorang gadis kecil yang terpampang manis diatas buffet berwarna emas beraksen mewah, dengan lamat ia mengamati foto itu, matanya terus menjelajahi setiap foto yang berjejer rapih di atas sana, amanda terkejut saat melihat salah satu foto yang sangat mengganjal dihatinya, foto alden bersama seorang wanita membuat hatinya terusik, pehuh Tanya
“siapa cewek ini ?”

Alden reflek mengambil foto ditangan amanda dengan genggaman yang cukup kasar, membuat amanda tersentak lalu memandangi wajah alden yang terlihat tak nyaman karena amanda yang terlihat ingin tau perihal siapa wanita yang ada bersamanya di foto itu
“namanya Neva” sepertinya alden tak ingin mengulur waktu lebih banyak, sudah saatnya ia memberitau pada amanda segala hal tentangnya, yang selama ini ditutup rapat, karena tak ingin, masa lalunya kembali terusik, namun fikirnya amanda memang harus tau karena ia tak ingin hubungan yang terjalin dengan hangat terselubung oleh kebohongan yang sebenarnya ingin alden beritahukan sedari awal perjumpaan mereka.
“dan yang itu dia meriska, adik aku yang meninggal 4 bulan lalu karena sakit hemofilia sejak kecil “ lanjutnya dengan gugup
“neva? Siapa dia? Mantan kamu ?” ada sedikit rasa takut yang tersirat dalam hati amanda, jantungnya berpacu lebih cepat berirama serampangan
“dia ini mantan aku, sekarang dia ada di australi”
Lega rasanya amanda mendengar penuturan dari alden, tapi iya masih tak puas karena ada satu pertanyaan lagi yang membutuhkan jawaban masuk akal
“mengapa foto mereka bedua masih disimpan ?”
Amanda beruntung ia tak harus memberikan pertanyaan yang nadanya seakan menuduh, alden sudah paham, pertanyan apakah yang ingin amanda berikan
“foto ini ada disini, karena aku nggak ingin kehilangan sosoknya, sampai saat ini aku masih sangat mencintai neva, dialah wanita yang bisa membuatku mengerti arti kehidupan, dialah satu-satunya wanita yang aku cintai bahkan sangat aku cintai, sampai aku tak bisa melihat wanita lain, selain dia” ujar alden, sambil mengingat kembali masa-masa indahnya bersama neva, tanpa menyadari kalau apa yang ia katakan baru saja telah membuat hati seseorang hancur dan merasa ditipu juga dipermainkan hingga sejauh ini
“a…. aapa? Ja… jadi dia.. dia adalah ….” Terbata-bata amanda meyakini kalau apa yang didengarnya tidaklah salah. Alden terkejut bukan main melihat amanda telah menangis, sambil menyentuh dadanya yang terasa sangat sesak, perlahan-lahan amanda mencoba mengendalikan dirinya, agar tangannya tak lagi membuat alden atau siapapun sat ini terluka.

Lamunanya terhenti saat alden menggam tangannya, yang memberikan sebuah pertanda bahwa sesungguhnya alden tulus menyayanginya, tapi rasa sayang yang tak sesuai dengan harapan amanda selama ini, juga alden sebenarnya takut kehilangan amanda, karena jika amanda pergi maka kerinduan yang teramat sangat akan kembali tak terbendung, walaupun kelihatannya kehadiran amanda sangat dimanfaatkan oleh alden, tapi hatinya berkata lain, ia tulus menyayangi amanda, tapi tak bisa memberi perasaan lebih, hatinya masih diliputi bayang-bayang neva

“lalu arti ciuman malam itu ……..” rona wajah amanda berubah menjadi merah padam, teringat kecupan hangat yang alden beri, apa maksudnya semua ini, mengapa semua terasa sangat sakit, lebih sakit mengingat kecupan itu dibanding mengingat hal lain setelahnya, mungkin karena pada saat itulah amanda begitu merani, menyerahkan hatinya pada alden, tanpa berfikir kedepannya

“soal itu …. Maaf “ alden tertunduk lesu, ia mgutuk dirinya sendiri, ia merasa tak ubahnya sebagai seorang laki-laki pengecut.
“harusnya aku bilang semuanya ke kamu, tapi aku rasa kamu nggak perlu tau akan masalalu aku” ingin sekali saat itu amanda pergi lau memberikan tamparan satu kali saja kepada alden, terhitung sebagai bayaran atas rasa sakit yang ia derita, namun hatinya berkata lain, ia tetap harus berada disana untuk mendengar permintaan maaf dari sisa ketangguhan alden sebagai seorang laki-laki.
“aku bodoh … ya aku memang bodoh, kenapa aku nggak pernah sadar dari awal, kalau pada waktu itu kamu hanya bilang, kalau kamu suka sama aku, dan nggak ada kata cinta didalamnya, aku yang terlalu berharap dengan segala perhatian yang kamu kasih buat aku, bahkan yang lebih bodohnya aku telah beranggapan memiliki kamu seutuhnya, ta…. Tapi … tapi …” isak tangis mulai mewarnai kegetiran jiwa amanda, alden menoleh, tangannya yang sedari tadi terkepal perlahan meraih pundak amanda, berusaha menangkan amanda yang larut dalam tangis, sesaat waktu seakan terhenti, matanya terpejam mencoba mencari jawaban dari setiap bayangan yang terlintas dalam gelap, ditemukanlah bayangan seorang pria yang senantiasa berada disisinya, yang selalu siap menjadi pelindung dari segala hal marabahaya diluar, mencoba menjadi sosok yang lebih berarti baginya, tanpa menuntut balas atas dasar perasaan yang terlanjur terbingkai dalam hati, senyumnya mengingatkan amanda disaat-saat dulu kebersamaan mereka, yang hanya berdasarkan dua elemen yang sangat sederhana yaitu tawa dan canda memberikan sebuah kehagiaan yang tak terhingga, bahkan waktu tak bisa merenggut kegembiraan mereka berdua, dan kini semuanya telah berakhir hanya karena perasaan yang tidak dimengerti keduanya, tanpa sadar amanda menangis bukan hanya untuk rasa sakitnya, tetapi juga karena ia sangat merindukan anjas.
Perlahan amanda membuka matanya, tak ditemukan anjas berada disana, hanya ada alden yang menatap amanda dengan bingung, ia tak bertanya mengapa amanda terlihat begitu gelisah, dengan sigap amanda mengambil tas nya lalu hendak pergi meninggalkan alden
“aku berterimakasih, karena kamu aku belajar untuk mengenal arti cinta, walau tidak berujung indah, tapi aku merasa inilah cinta yang sesungguhnya,karena tidak setiap orang dapat menemui cintanya di jalan yang sama” dengan pasti amanda melangkah makin menjauh dari tempat dimana alden masih memperhatikan sosoknya, amanda kembali mengembangkan senyum manisnya, lalu menoleh sesaat memastikan tak ada penyesalan saat ia benar-benar akan menghilang dari kehidupan alden.


//
Waktu menunjukan pukul satu siang lewat 15 menit, teriknya panas matahari mengiri perjalalanan anjas yang terasa begitu berat kini semakin terasa, dalam renungannya yang sangat panjang, anjas akhirnya memutuskan untuk bergegas pergi meninggalkan kota, seminggu yang lalu adiknya Adrian menelfon dan meminta anjas untuk segara menyusulnya ke amerika,karena disana Adrian merasa kesepian karena berada jauh dari keluarganya yang menetap dijakarta.

Setahun yang lalu mama juga menawarkan agar anjas berangkat bersama adiknya lalu bersekolah disana, hanya saja keadaanya sangat berbeda, ia masih memiliki tanggung jawab atas amanda, juga karena alasan dan janji yang ia ucapkan agar tidak meninggalkan amanda dalam kondisi apapun, mengingat janji itu hati anjas menjadi getir, bagaimana mungkin ia melanggar janji yang ia ucapkan secara lantang di tempat favorit mereka berdua, yang pada saat itu membuat amanda berdecak kagum lalu menangis dalam pelukannya

Jam satu nanti pesawatnya akan tiba, ia hanya menunggu beberapa menit lagi, sebelum benar-benar mengucapkan selamat tinggal, tekadnya sudah bulat tidak akan pernah kembali lagi, dan akan mengubur semua kenangannya bersama amanda sampai disini, tidak akan membawanya pergi bersamaan dengan luka yang semakin perih
“aku mencintai mu amanda eralda” tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya penuh kelembutan, dalam diam ia berdoa agar suatu saat tidak akan ada lagi jalinan persahabatan yang terputus hanya karena perasaan cinta yang tak terkendali, karena bercampunya menjadi kesatuan perasaan cinta yang semakin lama akan sangat sulit dibedakan.
//

Amanda berlari sekuat tenaga, menoba mengejar kembali hal berharga yang telah ia lepaskan begitu saja, lelah tak dihiraukannya, dalam hati yang berkecamuk rasa khawatir amanda meneguhkan diri agar tak menyerah lalu meyakini kalau semua ini belum terlambat untuk ia raih lagi
“lo nggak boleh pergi ninggalin gue njas, lo gak boleh pergi gitu aja, banyak banget janji-janji kita yang belum terwujud, please njas kasih gue kesempatan untuk perbaikin semuanya, gue gak mau nyesel sampe mati njas” amanda hanya berharap kalau semua ini tidak sia-sia karena ia percaya dengan kata-kata yang selalu diucapkan anjas setiap kali dirinya menyerah oleh keadaan “di dunia ini nggak ada yang sia-sia, segalanya pasti membuahkan hasil, entah itu buruk atau baik, kita harus tetap tersenyum mengambil setiap hikmahnya, dan percayalah jika suatu kegagalan adalah kemenangan yang tertunda, juga kemengan diawal bukan jaminan dari sebuah keberhasilan” rupa wajah anjas kembali terlintas dalam benak amanda, keinginannya semakin berkibar untuk mengejar apa yang ia inginkan, amanda bersumpah tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri, jika harus kehilangan sahabat yang sangat ia cintai.
Dalam hati yang berkecamuk rasa sakit juga rindu pada anjas, yang sangat teramat dalam, amanda mencoba untuk menemui anjas di rumahya, tapi kekecewaan harus amanda terima karena tak mendapati anjas berada disana, hanya ada tante Amara ibunda anjas dengan keramahaannya yang khas mempersilahkan amanda untuk masuk
“anjas pergi ke amerika? Tapi untuk apa anjas pergi kesana tan ? “ nada suara amanda meninggi, ia begitu shock mendengar penuturan dari tante amanda yang baginya terasa begitu mendadak dilakukan oleh anjas
“ia ingin melanjutkan sekolah disana, ia juga bilang kalau ia ingin sekali tinggal bersama Adrian” dalam penjelasannya, seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh tante Amara, mungkin sebuah rahasia besar yang tidak bisa ia bicarakan dengan amanda, sangat terlihat dengan cara bicaranya yang gugup juga kehati-hatiannya dalam bercerita, membuat amanda semakin tidak tenang
“ini semua pasti gara-gara gue, anjas pergi pasti karena gue” amanda merasa sangat bersalah, telah melukai perasaan sahabatnya yang tulus telah mengajarinya cara hidup yang akan memiliki arti bagi banyak orang, ia kembali teringat ucapannya kepada anjas yang mengatakan kalau ia tidak lagi ingin lagi mengenal anjas
“mungkinkah anjas sakit hati ?” ia merasa yakin hal inilah yang membuat anjas tak  bisa berada disini lagi, dan tidak ingin berada disekitarnya lagi
“anjas titip ini untuk kamu” secarik surat diberikan tante Amara pada manda, kertas berwarna ungu, sama persisiseperti lembaran istimewa yang sempat amanda baca beberapa waktu yang lalu

“aku tidak akan pernah mengerti bagaimana roda kehidupan terus berputar.

Aku tidak akan pernah memahami perjalanan hidup yang telah digariskan oleh tuhan.

Aku tidak akan pernah bisa menentukan setiap jejak langkah yang telah terlewati dimasa lalu

Amanda eralda …
Apa kau tau yang kurasakan, apa kau mengerti apa yang ku harapkan dan aku inginkan

Amanda eralda …
Aku tak meminta lebih dari mu, aku hanya ingin hidupku penuh akan cinta

Amanda eralda …
Sakit ku bukan hanya aku yang rasa, setiap helaan nafas  hati ini terlalu sakit saat mengingatmu

Amanda eralda …
Aku tak mengerti apa yang terjadi, aku masih terlalu takut untuk mengetahui, aku takut menerima kenyataan jika kau harus pergi

Amanda eralda …
Aku mencintaimu, bawa diri ini selalu bersamamu, dimanapun kau berpijak agar aku dapat menjagamu, bingkai indahnya senyum mu di ingitanku, biar ku bawa segalanya dalam setiap langkahku, jangan biarkan kau melepas genggaman tanganku

Amanda eralda …
Aku tak ingin pergi, sungguh aku tak ingin, terlalu banyak hal yang tak ingin aku tinggali, biarkan aku disini … sejenak saja sampai aku dapat membahagiakan dirimu yang aku yakini bahwa kau juga sangat menyayangiku

Amanda eralda …
Sampai kapan aku harus bertahan dalam ketidakpastian yang terus meliputi jiwaku, aku tidak lagi memiliki kekuatan untuk menahan, rasanya sangat sakit, seperti adanya ratusan jarum yang menghujam jantungku, nafasku terhenti sejenak dan itu membuatku gusar

Amanda eralda …
Denting waktu semakin cepat berlalu, lorong kehidupan terus saja beranjak meninggalkan kehidupan lalu, bayang semakin tertelan oleh gelap, lilin mati sudah tertiup angin, merenggut cahaya menjadikan kelam

Amanda eralda …
Aku tak ingin ini menjadi sebuah akhir, beri aku kesempatan untuk mengubah takdir

Amanda eralda …
Aku tak pernah menyesal mengenalmu sebagai seorang sahabat, juga tak pernah menyalahkan keadaan yang mempertemukan kita dalam sebuah persimpangan, dan aku tak akan menyalahi cinta yang tumbuh begitu saja tanpa mengenal waktu

Amanda eralda …
Aku bersyukur dengan apa yang tuhan takdirkan, aku tau ia yang maha mengetahui apa itu keadilan

Amanda eralda …
Ku harap kepergianku tak menyisakan luka bagimu, aku hanya berjuang demi dirimu juga linangan air matamu, jika aku tak mampu mewujudkan hal itu, aku mohon maafkan aku, kan ku hadang sekuat batinku untuk tetap terjaga

Dan Amanda eralda …
Andai aku bisa memilih 
//
Kehampaan menguasai hati anjas, hampir saja ia nekat membatalkan kepergiannya, namun ia tidak ingin menjadi seorang pecundang untuk kedua kalinya
“apa harus gue pergi ? tapi gimana sama amanda nanti” terbayang lagi wajah amanda yang selalu membuatnya ingin melihat hari esok
“nggak! Gue gak nggak boleh pergi “ ia bergegas mengambil barang-barangnya lalu berbalik, mencoba meyakini kembali keputusannya yang terkesan tak selaras dengan hatinya yang berkata lain
//
“anjas …. Anjas … anjas …” terdengar suara amanda yang begitu lantang diantara ratusan kerumunan orang di bandara, namun langkahnya tak juga gontai berlarian kesana kemari mencari sosok anjas, tak perduli dengan berpasang-pasang mata yang tertuju padanya, amanda tanpa ragu meneriakan nama anjas, berharap kalau ia belum terlambat mendapatkan anjas kembali
“anjas … anjas lo dimana njas … anjas !!!” tidak ada yang menjawab panggilannya tersebut, hanya keriuhan suasana, yang meneggelamkan tangisnya, amanda terduduk diantara derap langkahan kaki yang sangat cepat berlalu, keputusasaan menyambangi hatinya, sesosok wanita baya pun memegang pundaknya dengan raut wajah yang tak kalah muram membantu amanda untuk berdiri
“ta … tante amara” amanda terpaku, mama anjas pun seraya memeluk amanda
“maafkan tante manda …. Maafkan tante “ sebelum amanda menanyakan apa yang terjadi, tante amara mulai dengan ceritanya yang tadi baru saja menjumpai anjas
//
Tekadnya sudah bulat, ia tidak akan pergi begitu saja, setidaknya ia harus memastikan kalau kondisi amanda akan baik-baik saja selepas kepergiannya nanti, langkah semakin dipercepat tak sabar hatinya ingin menjumpai amanda, walau bisa jadi inilah perjumpaan mereka untuk yang terakhir kali, tapi bagi anjas tak apa jika hal itu terjadi, setidaknya amanda tak akan mengenangnya sebagai pria yang pengecut karena mencoba lari dari kenyataan.
Seketika langkahnya terhenti, saat melihat sosok wanita yang juga sangat ia cintai dan sangat dihormatinya itu tengah berdiri seakan mencegat keputusannya yang ingin kembali
“anjas, apa yang kamu lakukan ? kamu harus berangkat ke amerika menemui adik mu, juga melanjutkan sekolah disana” tante amara memandang anjas penuh harap, keinginan suaminya sebelum meninggal dulu harus terlaksana, yaitu menginginkan kedua putranya bersekolah di amerika, juga mewujudkan cita-cita keduanya Adrian yang ingin sekali menjadi seorang insinyur, dan anjas yang sedari kecilnya memiliki impian untuk menjadi seorang dokter
“ta … tapi mah anjas .. anjas” ia tak tega mengecewakan hati ibundanya, tapi bagaimana dengan amanda
“mama mohon anjas, turuti permintaan terakhir papamu, jangan buat ia sedih anjas, mama mohon kamu pergilah ke sana, jangan hentikan langkahmu nak “ tante amara sangat tau, hal yang membuat anjas enggan untuk pergi, alasannya hanya satu yaitu amanda, ia memang tidak tega melihat kesedihan yang terpancar dari wajah anjas ia mengerti kalau dua sahabat ini memang tak bisa dipisahkan, tapi ia yakin suatu saat mereka akan kembali dipertemukan karena tak ada yang mampu memisahkan keduanya, hanya tuhanlah yang mampu berkehendak atas segala sesuatu yang akan terjadi
//
“ja .. jadi anjas benar-benar pergi” amanda kini merasakan kegundahan yang sangat luar biasa, kini ia telah kehilangan sahabat terbaiknya, bukan hanya itu, sekarang separuh jiwanya telah pergi bersamaan kenangan mereka yang akan selamanya melekat dalam ingatan, tak akan lekang oleh waktu meski dunia terhenti sampai disini, semuanya akan tetap sama ya… akan selalu sama

“maafkan tante manda, maafkan tante, semi tuhan tak terbesit sedikitpun dalam benak tante untuk memisahkan kalian berdua, tante tau kalau kalian saling menyayangi, maafkan tante amanda… maafkan tante ….” Ia sebenarnya tak merelakan dua sahabat ini terpisah jauh, tanpa ada kepastian kapan mereka akan berjumpa lagi. Amara pun tau kalau anaknya memang sangat mencintai amanda sedari dulu, bahkan kekuataan cinta itu semakin terlihat, ketika anjas dan amanda tak bisa lepas, namun ia yakin suatu saat jika kehendak tuhan akan mempertemukan mereka segalanya tidak akan berubah.

“sebelum pergi, anjas menitipkan sebuah pesan untuk kamu, ia bilang kalau ia sangat mencintai kamu” tante amara kembali memeluk amanda lagi, amanda tak kuasa menahan pedih lukanya, namun ia sedikit lega karena ternyata anjas tidak pernah sedikitpun membencinya dan tak akan pernah membencinya, namun rasa bersalah yang tak bisa begitu saja abaikan selalu menegurnya setiap waktu
//
Setahun berlalu, pergerakan waktu terasa begitu lambat, hari ini adalah hari ulang tahun amanda yang ke 17, angka special disalah satu tahap pergantian usia
Tepat dibawah pohon jambu yang kini tengah berbuah lebat, tempat yang akan selalu menjadi tersimpannya jutaan kenangan ,dirinya dan anjas yang dulu bersama-sama menghabiskan hari tak kenal letih, amanda sangat amat merindukan sosok anjas yang penuh kejutan setiap kali ia berulang tahun, tak ada harapan lain selain keinginannya agar anjas kembali, penyesalannya telah terlambat dan tiada guna lagi tangis pilunya juga rintihan disetiap doanya menanti kepulangan anjas. Amanda tak pernah meninggalkan tempat ini begitu saja, ia akan terus berada disana sampai tuhan mempertemukan ia dan anjas meski untuk yang terakhir kali. Setiap saat ia tertidur lelap disini, ia hanya ingin ketika membuka mata anjas akan datang dan terduduk diam disampingnya, saat pulang sekolah amanda tak pernah bosan untuk kembali melihat tempat itu, dengan satu harapan yaitu kepulangan anjas, berulang kali pula tiada menyerah amanda memandatangi rumah anjas yang telah sepi tak berpenghuni, karena tante amara pun telah menyusul kedua anaknya. Dan dengan menahan tangis amanda selalu berkeliling lapangan basket sekolah yang menjadi tempat kedua favorit mereka saat disekolah untuk bercanda atau sekedar melempar bola dengan asal.

disini semunya berawal, perkenalan ku dengan mu 17 tahun yang lalau, sama seperti dulu saat ulang tahun mu yang pertama, lalu kita bertemu lagi saat kita samasama berumur 5 tahun, aku berjumpa dengan sosok mungil yang tak lagi ku ingat, beranjak kita dewasa berbagai hal telah kita lewati bersama, tangis, tawa,duka,bahagia, bercampur menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan seumur hidupku, dulu, sekarang dan selamanya kau akan tetap menjadi sahabat terbaikku, aku menghargai setiap pengorbanan yang telah kau lakukan demi kebahagiaan ku, maafkan aku yang tak pernah menyadari seberapa besar hal yang telah kau lakukan agar aku tetap mempertahankan senyum ini, maafkan aku yang begitu mudah melepasmu, namun kau juga harus tau kalau aku sangat menyayangimu, aku tak bisa jauh dari mu walau sedetik, kenaifan ku juga kebodohanku telah merenggut semua kebahagiaan yang kita miliki, maafkan aku yang bimbang memahami perasaanmu yang tulus mencintaiku, percayalah bahwa aku pun tak ingin kau pergi meninggalkan aku.
Aku sangat merindukan mu, bahkan rindu ini telah membuat ku terhempas tiada daya, aku tak kuat berpisah lebih lama lagi, aku mohon dengan sangat maafkan kesalahan ku, pulanglah dan peluk aku, anjas … seharusnya rasa ini tak menjadi persoalan bagi kita berdua, kemana sahabat ku, dimana kamu berada aku bahkan tidak tau, aku memang lelah mencari dan terus mencari mu, tapi hati ku tak pernah mengizinkan ku untuk berhenti, sebelum kematian menjemput ku kelak, aku ingin memandang mu lagi, aku ingin tertawa dengan mu,aku ingin pundak mu menjadi sandaran terakhir ku, kebutaan ku telah mengajariku banyak hal, termasuk keberadaan mu yang sangat berarti, bersamamu aku telah melawati waktu, bersamamu aku mengenal apa itu hidup, bersamamu pula lah aku belajar tentang cinta.  aku bersumpah jika apa yang kuucapakan tak lebih dari sekedar perkataanku yang penuh kemunafikan belaka, kembalilah dengan membawa keberhasilanmu dihadapanku, aku akan menunggumu disini, ditempat ini, tempat dimana kau menyadarkan ku dengan meninggalkan bayangan masa lalu kita disaat yang tak terduga dimana aku memutuskan untuk mencintaimu ….”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar