Tangisan itu …
Aku
terpaku menatap siluet cahaya lampu jalan dari jendela kamarku, jam sudah
menunjukan pukul 12 malam tapi mata ku tak juga dapat terpejam, ada sesuatu
yang membuat hatiku terusik, gelapnya malam menemani lamunan ku, temaran
semakin memekakan suasana, hatiku semakin menjerit, isak tangis pilu itu
kembali terdengar, linangannya menyentuh pipiku dengan lembut, ku benamkan
segala rasa sakit yang telah mereka torehkan.
Aku
kembali menangis, bagaimana tidak ? bayangan itu kembali terlintas dalam benak
ku, aku ketakutan setengah mati, dunia ku berubah hanya dalam satu kedipan mata
dan satu helaan nafas, aku telah hancur bahkan puingnya lebih kecil
dibandingkan debu yang terpecah belah, jiwaku tak lagi utuh, pelita kecil ku
kini redup, penderitan ku kian jadi sempurna, aku tak kuasa membuka mata dan
telinga, teriakan itu … kejadian itu … dan kenagan itu …
Entah
sudah berapa lama aku terdiam, memandang luas tapi tatapan ku kosong, sesekali
ku tutup kedua mataku mencoba menengkan
diriku sesaat, tapi gagal hatiku malah semakin gelisah. Dalam hatiku selalu
timbul sebuah pertanyaan “sampai kapankah ini akan berakhir”?
Aku
memang lelah menghadapi semuanya, tapi tak mungkin juga langkah ku terhenti, diriku
memang tertatih meniti jalan panjang tak berujung, yang ku harapkan dapat
menemukan bayangan mu dipersimpangan.
Aku
merutuk diriku sendiri
Aku
lah sang nahkoda gagal, aku lalai membawa kapalku mencapai pelabuhan, seperti
layaknya aku yang terhempas, jiwaku melayang bagai daun kering yang tertiup
hembusan angin, melambai pelan dan rapuh hanya dalam satu sentuhan.
aku
tergelincir dalam sebuah pilihan rumit, dan tuhan tak mengizinkan aku memiliki
keduanya
//
Kulihat
kembali ponselku, masih tak ada pesan dari Kevin, sudah seminggu ini aku dan
dia tidak berkomunikasi, memang semua ini salahku yang membuatnya harus
menunggu kepastian yang akan ku beri, Aku dan Kevin sudah satu bulan
berpacaran, dia adalah seniorku disekolah, akhir-akhir ini hubungan ku dengan
Kevin tidak berjalan dengan baik ,ku ambil lagi ponselku lalu membaca ulang pesan yang Kevin berikan
sebelum kami akhirnya berpisah sejenak, dalam kalimatnya Kevin terus bertanya
apa yang sebenarnya terjadi padaku, ku kira mungkin ia telah bosan menghadapi
sikap ku yang keras, juga mungkin ia tak sanggup menjajari langkahnya bersamaku
kedepan, entah lah fikiran ku tak berpusat padanya, tapi aku enggan untuk
memberinya penjelasan, aku mungkin saja bisa mempercayai Kevin, namun aku kira
tidak ada alasan bagiku untuk melibatkannya dalam permasalahan ku yang rumit,
tidak untuk sekarang ataupun nanti.
Aku
tau Kevin memang sangat amat mencintai juga menyayangiku, ia pria yang cukup
tangguh menghadapi sifatku yang kuyakin membuatnya pusing dan harus terus
menahan sabar berusaha menerima tingkahku. saat ini aku memang mulai
menjauhinya dengan cara member penolakan tegas menaggapi ajakannya untuk
sekedar “kencan” atau mengobrol saat jam istirahat disekolah dengan berbagai
macam alasan yang kubuat
Bukan
karena aku mulai jenuh, hanya saja … ahhhh
Jika
aku mendeskripsikan seorang Kevin dialah pria yang sangat baik,lucu,supel,simple,
dan yang paling membuatku bertekuk lutut padanya karena dia merupakan pria yang
berhasil memiliki ragaku sepenuhnya, Kevin .. hah agak sulit memahaminya dia
sangat istimewa bagiku, harus kuakui aku bangga dapat memilikinya, mengapa
tidak ? dia adalah salah satu senior yang diperebutkan, aku sendiri juga tak
tau kenapa Kevin menjatuhkan pilihannya padaku, entahlah, yang kubutuhkan
darinya bukan popularitas walaupun secara tak langsung hubunganku dengannya
telah menjadi perbincangan di satu sekolah, yang ku mau darinya hanya cinta
yang ia beri hanya untukku, selebihnya aku tak
perduli
Kevin
… aku sangat mencintaimu, bahkan aku sendiri tak mampu mengukur seberapa besar rasa
cintaku, yang memang kurasa cinta ini tak memiliki batas.
//
“aku
mau minta cerai, terserah kamu setuju atau tidak, aku sudah tidak sanggup lagi,
biarkan anak-anak ikut denganku” hatiku berdegup kencang, sayup-sayup kudengar teriakan
mama dari luar, sepertinya sumber suara itu dari ruang tamu .yang berada di
lantai bawah
“lagi-lagi
kaya gini” aku mendengus kesal, ingin sekali rasanya aku membungkam mulu
keduanya, yang hampir setiap saat bertengkar tak kenal hari
“oke,
kalau gitu mulai malam ini aku pergi akan pergi dari rumah” papa tak kalah
garang membentak mama, aku tersentak mendengar ucapan papa, bagaimana pun papa
tak boleh ku biarkan pergi dari rumah, karena jika papa benar-benar pergi bagaimana
nasib ku dan juga rasya adik ku kelak, aku langsung bergegas berlari hendak
keluar kamar, namun langkahku terhenti, badan ku terasa sangat kaku, kejadian
menyakitkan itu sekarang membelenggu ingatan ku lagi. Bayangan tersebut bagaikan
film yang terus diputar ulang tiada henti, banyangan papa yang telah tega
menampar ku, bayangan papa yang telah menghianati mama, bayangan papa yang rela
menelantarkan keluarganya, bayangan papa yang membiarkan aku menananggung
penderitaan ini, membuat rasa kasih ku pada papa lebur sudah, aku memang sangat
membenci papa, tapi bagaimanapun dia ayahku juga, sekejam apapun perlakuannya
padaku juga mama dia tetap bagian dari keluarga kecil ini. Tapi perasaan kecewa
juga sakit hati yang terlanjur menderaku, membuat niatku untuk mencegah
kepergian papa terhenti.
“aaaaaaaaa…..”
aku menjerit sekeras mungkin, aku terduduk dilantai kamarku yang dingin “kenapa
tuhan nggak adil” kataku lirih sambil memegang dadaku yang terasa sesak, aku
berdoa semoga segalanya tak berakhir buruk, aku sangat mencintai keluarga ku,
mama papa juga adik laki-laki ku, apakah tuhan sejahat itu merampas kebahagiaan
terindah yang kumiliki.
Nafasku
tercekat, tangan ku reflek menyentuh hidung, aku terbelalak melihat darah yang
kembali mengalir, mataku berkunang-kunang, jantungku berdebar, detakannya tak
beraturan semakin cepat. Aku berusaha bangkit tapi tak bisa.
“ma … maaaa…mama” suaraku terbata-bata, aku
berharap seseorang mendengarku, tapi tak ada jawaban, aku merangkak perlahan
menjangkau obat yang kutaruh diatas sebuah buffet kecil, keringat dingin keluar
deras dari pori-pori tubuhku, dingin yang teramat sangat seakan menusuk-nusuk,
aku rasa aku akan mati malam ini, deru nafasku terus memburu, dan itu membuatku
gusar ku pertahankan jantungku terus bedenyut agar aku tetap terjaga. Apa
malaikat akan datang menjemputku sekarang ?
“prang
!!!”ku jatuhkan gelas yang berada di sisi obatku, kaki ku terluka terkena
pecahan beling, syukurlah ku dengar derap langkah seseorang menaiki tangga,
berarti ada yang mendengar suara itu.
“ciera…
ciera kamu kenapa sayang… ciera jawab mama” benar saja mama ku datang
“maa…
maaa”suara parauku terus saja memanggilnya
“brak
!!!” pintu terbuka lebar, mama sangat kaget, melihat aku sudah tergelatak menahan
sakit, mama seraya menghampiriku, sambil menangis.
“cieraaaaaaaaaaa”
hanya itu kata terakhir yang ku dengar, sebelum aku sepenuhnya tak sadarkan
diri.
//
Waktu terus berjalan, sudah pukul 2 malam, tak
sedikitpun rasa kantuk menyergapku, mata ku masih menatap siluet lampu jalan,
angin malam semakin menyelimuti tubuhku yang ringkih, aku memang senang berada
disini, keadaan malam begitu indah jika ku pandang dengan seksama, bulan yang
tampak manis bersisihan dengan jutaan bintang, langit yang kelabu namun tampak
tak kalah menawan dengan cahaya kerlapkerlip yang bertabur membentuk rasi, kesempurnaannya
tak lantas membuatku jengah, ku lihat sekilas jajaran obat yang berada di atas
buffetku, aku tersenyum getir, benda itulah yang mampu memperpanjang umurku
selama belasan tahun, tapi rasanya sekarang aku tak lagi membutuhkannyaa,
kunpasrahkan segalanya pada sang penguasa alam, jika memang waktunya tiba siapa
yang bisa mengelak…
//
Sudah
3 hari papa tak kunjung kembali ke rumah, adik ku terus mempertanyakan
keberadaannya, akhir-akhir ini mama lebih suka mengurung diri dalam kamarnya,
sehingga aku harus sendirian mengurus rumah juga rasya.
Kami
bertiga baru saja pulang dari rumah sakit, memeriksa kondisiku yang kian
menuruh dari hari-ke hari, saat mama keluar dari ruangan dokter, wajahnya
terlihat pucat, saat aku bertanya apa hasil pemerikasaan, mama hanya diam,
bergegas memapah tubuhku yang masih lemas menuju mobilnya yang terparkir di
lobby rumah sakit. Hatiku meyakini kalau kondisiku semakin memburuk.
Sejak
kecil aku didiaknosa dokter mengalami kelainan jantung, sehingga aku harus
terus melakukan check up rutin 6 bulan sekali, aku sudah terbiasa dengan
obat-obatan yang dokter beri yang menurutnya bisa menopang hidupku lebih lama,
juga jarum suntik yang selalu menghujam
lenganku setiap kali pengobatan dilakukan. Usiaku sekarang sudah 16 tahun, selama
itulah aku selalu menanyakan hal yang sama pada dokter yaitu“kapan sakitku akan
sembuh” , tapi dokter selalu mengatakan jawaban yang selalu sama juga hanya “segera”
yang terucap dari mulutnya, namun raut
wajahnya tak bisa ku percaya dengan mudah. 16 tahun bukanlah kurun waktu yang
singkat aku harus menikmati perjalanan hidupku yang tak mudah, terkadang aku
iri melihat anak-anak seusiaku dapat menjalani kehidupan normal tanpa ada rasa
takut saat malam tiba karena mereka masih punya harapan dihari esok, tidak
seperti ku yang takut saat mataku harus terpejam karena orang sepertiku hanya
memiliki harapan tipis untuk menjumpai matahari terbit dihari berikutnya.
Aku
ingin memiliki mimpi seperti kebanyakan orang disana, tapi anak sepertiku untuk
apa mempunyai mimpi, kalau hidupnya saja hanya tergantung pada alat medis, aku
ingin sekali menjadi dewasa, tapi apa obat-obat itu akan sanggup memberiku
harapan lebih banyak, ku rasa tidak, aku tak berhak memiliki sebuah impian,
maupun cita-cita.
Jangankan
untuk menggantungkan mimpi ku, bernafas
saja itu sudah terasa sulit, aku malu pada diriku sendiri, aku tak berdaya
menembus ruang waktu, jadi apa pantas ku angankan semua impianku ?
Sepulang
dari rumah sakit, Aku juga langsung masuk kekamarku, membuka tirai jendela,
yang sedari pagi masih tetutup, sengatan matahari sigap menyinari seluruh sudut
ruangan sederhana ini. Aku merebahkan diri di sofa kecil yang berada di sisi
kanan ranjang. Aku masih penasaran dengan apa yang dokter bilang pada mama,
tapi dilain hal terbesit ketakunan dalam diriku mendengar kenyataan yang
terjadi, namun bagaimanapun juga aku tak bisa menghindari takdir
terkadang
aku marah pada tuhan, yang menghendaki kelahiranku, mengapa tuhan tak memberiku
sedikit belas kasih, belasan tahun aku harus melihat mama memangis tiada henti
melihatku aku meregang sakit, dan mempertaruhkan nyawa kala sakitku kembali
datang, seandainya saja tuhan memberiku kesempatan untuk mewujudkan keinginanku
, maka yang kuinginkan adalah menjadi anak yang sempurna bagi orang tuaku,
hatiku tak harus tersayat mendengar mama yang tersedu melihatku diambang
kematian.andai saja aku terlahir sehat, orang tuaku tak akan bersusah payah
memenuhi keuangan untuk pengobatanku, rasa sayang ku pada mereka lah yang
membuat batinku bertambah sakit, tuhan… kalau keajaibanmu dapat mengubah seisi
dunia, dan meruntuhkan alam semesta hanya dengan satu sapuan angin, mengapa kau
tak member keajaiban kecilmu padaku
darah
kembali menetes ditanganku, dan saat itu juga dadaku kembali terasa sesak, aku
menyeka hidungku dengan saputangan yang memang selalu ada disaku bajuku, darah
yang keluar cukup banyak, dan warnanya kini semakin menghitam, mungkin
menandakan kalau diriku semakin rapuh,aku melirik sekilas kearah obat-obatan
yang berada disampingku, niatku untuk meminumnya kurungkan, aku hanya
berusaha agar tertidur, meski jatungku
kian berdentum sesukanya
//
Pukul
setengah tiga malam, aku masih saja terjaga, aku menyentuh pergelangan tangan
kiriku yang terlingkari oleh gelang yang Kevin berikan. Sisa air mataku mulai
mengering, aku beranjak menyalakan lampu, sehingga keadaan sekarang jauh lebih
terang, aku melihat bayangan ku dicermin
“gue
jelek banget sih” gumamku sambil membenahi rambutku yang terlihat seperti baru
saja diterpa badai Katrina selama seminggu. Kupaksakan seulas senyum meyakinkan
diriku sendiri kalau semuanya akan baik-baik saja dan tak ada yang perlu
kutakutkan.
Namun
tak bisa kupunkiri kalau dalam lubuk hatiku masih tersimpan keresahan, mengapa
waktu berjalan dengan gerak yang sangat lambat, seakan ia ingin aku merasakan
kepedihan ini lebih lama lagi
Mataku
menangkap bunga mawar yang berada di vas bunga berwana putih yang ku pajang di
meja belajarku, tak sampai sepersekian detik menatapnya, mataku sudah kembali
berkaca-kaca
“hah
…”
//
Panas
yang menyengat tak menyurutkan semangat para siswa untuk mengikuti aneka
perlombaan yang sedang diadakan pihak sekolahku, sudah menjadi tradisi setiap
tahun acara seperti ini dibuat, alasannya untuk membentuk jiwa sportif dalam
diri murid yang turun langsung untuk
bertanding, aku duduk dipinggir lapangan bersama teman-teman sekelasku, diujung
lapangan sisi yang lain, Kevin memperhatikan ku dari jauh, dia sedang berada di
tempat panita acara, Kevin memang salah satu anggota osis yang sibuk, namun aku
tak menghiraukan tatapannya, aku hanya tertuju pada pertandingan futsal yang
sedang berlangsung, tapi hatiku dipenuhi oleh fikiran ku tentang kevin.
“ra
dari tadi Kevin ngeliatin lo terus tuh” dena menghampiriku, lamunanku buyar,
aku berusaha menenangkan diriku sendiri, aku tersenyum simpul pada dena sebagai
tanda terima kasih ku atas ucapannya tadi. Dena menatap raut wajah ku yang tak
biasa
“lo
kenapa lagi ra ? “ ia memandangku prihatin, terbesit diwajahnya rasa khawatir,
tapi aku hanya diam dan tak menoleh sedikitpun kearahnya.
“kalau
lo punya masalah cerita aja sama gue, siapa tau gue bisa bantu” tangan dena
menggenggam erat tangaku, aku beruntung memiliki sahabat seperti dena, tapi
bukan sekarang saat yang tepat menguak sisi lain dari kehidupanku yang lain
Aku
yakin kalau Kevin sekarang sedang merasakan kegalauan luar biasa, ia terus berusaha
melakukan pendekatan lagi padaku, namun aku tetap pada pendirianku untuk terus
menolaknya, biar saja Kevin berfikir ulang untuk melanjutkan hubungan ini,
keputusanku sudah bulat
“maafin
gue vin?” aku meneguhkan hati untuk segera menyelesaikan segalanya.
//
Sudah
jam 3 pagi, mataku tak kunjung lelah, aku kembali merebahkan diriku diranjang,
ku biarkan lampu tetap menyala, agar bayang-bayang menakutkan itu tak lagi
muncul. Akhir-akhir ini aku memang sulit untuk tidur, mimpi ku selalu saja buruk
sehingga hal itu sangat mengganggu, ku biarkan jendela kamarku tetap terbuka
lebar, angin malam seketika menerpa wajahku, mulai terlihat orang-orang yang
berlalu lalang,entah mereka hendak kemana dipagi buta seperti ini, juga
kendaraan yang silih berganti melewati persimpangan jalan.
Aku
kembali menempati tempat favoritku, menenggelamkan rasa sakit dengan memandang
langit malam yang kian lama kian mempesona
//
Aku
tertegun melihat surat cerai di atas meja rias mama, duniaku seakan runtuh, aku
tak percaya papa benar-benar ingin menceraikan mama, yang sudah hampir 20 tahun
setia mendampinginya, aku telah gagal menjaga keluargaku, ambang kehancuran
semakin dekat, dan aku tak bisa mencegahnya lagi, aku tak ingin melihat mama
terus merasa tersiksa oleh perlakuan papa, tapi dilain hal aku tidak ingin
keluargaku terpecah belah, perpisahan mereka pasti akan menjadi pukulan
terberat tak hanya bagiku tapi juga bagi rasya,saat itulah aku mulai kehilangan
arah, aku mulai tak percaya dengan keajaiban tuhan, juga kekuatan doa yang tak
putus disetiap sembah sujudku
“maafkan
mama ciera” ternyata mama sudah sedari tadi memperhatikanku, entah apa yang
tersirat dalam kilat mata mama yang sendu. Ingin sekali rasanya saat itu aku
membenci mama yang membiarkan keluarga ini harus terpisahkan, hanya saja aku
tak sampai hati melakukan itu, aku berusaha mempercayai mama.
“apapaun
yang terjadi, aku hanya ingin mama tidak meninggalkan aku dan rasya” mama lalu
memelukku dengan hangat, “oh tuhan …. Seberat inikah jalan hidup yang harus
kutempuh” jeritku dalam hati
//
Sore
hari ini, hujan kembali datang bersamaan dengan tangisku yang tak kunjung reda,
hatiku masih diliputi rasa sesal, aku telah kehilangan segalanya,
kebahagiaan,keceriaan,kegembiaraan,bahkan kini cintaku telah direnggut paksa
oleh keadaan, aku lelah dipermainkan oleh waktu.
Kevin
telah pergi meninggalkan aku, salah ! tapi akulah yang meninggalkan Kevin
begitu saja, hatiku sakit menerima kenyataan kalau Kevin harus ku lepaskan,
Kilas
balik ingatan ku kembali berputar dengan kejadian siang tadi.
Dari
kejauhan dapat kulihat Kevin sedang berjalan menghampiriku, dena yang melihat
terlebih dahulu segera menyingkir untuk memberi ruang bagi Kevin bicara dengan
ku
“ra
…” ia langsung berjongkok dihadapanku
.Aku hanya diam tanpa memandang kearahnya
“kamu
kenapa menghindar dari aku ? kamu yakin minta putus” aku sudah yakin pertanyan
itu yang akan Kevin ajukan pertama kali, semalam sebelumnya aku memang minta
putus darinya, namun Kevin meminta agar segalanya dibicarakan dulu, mungkin ia
bermaksud untuk meyakinkan lagi keputusanku. Aku hanya mengangguk, bibirku
keluh lidahku terasa membeku, aku tak sanggup menyakitinya lebih dari ini, aku
berbalik menatapnya, mata itu … mengisyaratkan perasaan kecewa dan terluka, aku
tau Kevin merasa terbuang oleh sikapku yang seakan tak memiliki hati nurani dan
belas kasih, namun aku tak punya pilihan lain, aku harus mengorbankan
perasaanku walaupun hatiku sakit dengan pukulan bertubi-tubi seperti ini, namun
aku harus melakukannya karena memang tak ada jalan lain, Kevin harus membenci
ku, bagaimanapun dia tak boleh terus mencintai wanita sepertiku, perasaanya
harus dihentikan, meski harus merubahnya membenciku seumur hidup bagiku lebih
baik begini, daripada ia harus menerima rasa malu karena kekasihnya bukanlah
seorang wanita yang terlihat sangat hebat diluar, tapi hanyalah seorang wanita
yang hidupnya dilimpahi penderitaan dengan topeng yang selalu dipakainya setiap
hari, ku lakukan ini hanya untuk kebahagiaannya, tak ada lagi alasan bagiku
untuk bertahan bersama Kevin, biarkan selamanya ini menjadi rahasia, dan akupun
tau mulai detik ini Kevin akan benar-benar menghilang, Tangisan ku semakin
pilu. Dan aku makin membenci kehidupanku, aku terus menjerit mengapa tuhan
memberikan aku pilihan sesulit ini, aku harus kehilangan orang yang ku cintai
dengan segenap hatiku. Mengapa kisahku dengannya harus berakhir bencana
//
Aku
terbangun, ternyata aku sempat tertidur sejenak, matahari belum juga keluar
dari peraduannya, rembulan masih terang benderang berdampingan dengan jutaan
kerlip bintang
Mimpi buruk itu kembali datang. entah sudah
berapa banyak air mata yang ku tumpahkan seiring duka ku yang tak kunjung
berakhir, aku menyesal telah
menjadi
abu dimasa lalu ku, tapi apa daya aku tak bisa mengulang waktu..
Aku
seharusnya sedikit bisa lebih bersyukur karena setidaknya keluargaku dapat
terselamatkan. Ya semuanya bergulir dan aku menemukan secercah harapan di saat
perjuanganku melawan sakit.
//
Sepanjang
sisa liburan, ku habiskan dirumah sakit, aku kembali drop, dokter mengatakan
aku mengalami stres ringan akibat terlalu banyak berfikir, mama sangat
menkhawatirkan keadaanku, karna hampir 4 hari aku koma, kata mama aku ditemukan
pingsan dalam kamar dengan hidungku yang bersimbah darah. Saat ku membuka mata
yang kudapati hanyalah sosok mama dan rasya, jujur aku sangat merindukan papa,
sudah 6 hari aku dirawat, dan dokter membawa berita baik, jantungku mulai
stabil hanya saja untuk sekarang, aku belum diperbolehkan untuk melakukan
aktifitas berat, karena akan mempengaruhi kondisi jantungku.
Rona
wajahku berseri-seri, papa datang dihari itu, membawa sekotak kue kesukaanku.
“maafkan
papa ciera, papa berdosa sama kamu,rasya,dan juga mamamu” papa mengatakan hal
itu sambil menangis dan memegang tangan ku yang masih terbalut jarum infus.
Oh
tuhan … kau tiba dengan membawa sebagian kecil mukjizatmu, tangisku tak
terbendung lagi
“aku
Cuma ingin mama dan papa mambatalkan niat kalian untuk bercerai, aku nggak
punya permintaan apa-apa lagi selain itu” aku berusaha mengatakan apa yang
memang ku inginkan, aku takut menunggu jawaban dari papa, bagaimana kalau
jawabannya “tidak” sejenak papa terdiam, mungkin ia sedang memikirkan
keputusannnya
“mama
dan papa nggak akan pisah” tiba-tiba mama menjawab senyumnya telah kembali mama
menghampiri kami, lalu mengecup keningku, menatapku lembut seakan meyakinkan ku
kalau semuanya akan baik-baik saja, aku senan karena dari sorot matanya, tak
terlihat kebohongan, tak ada kepura-puraan disana.
Aku
menangis lagi, keduanya kini memelukku dengan erat, aku tak lagi menyesali
kehidupanku, betapa aku yang bodoh tak mensyukuri keberadaanku yang sangat
berarti bagi mereka
“hiduplah
untuk kami, kamu anak terhebat yang pernah ada didunia ini, bertahanlah untuk
hidupmu”semangat kesembuhan menjalar disekujur tubuhku, seketika segala rasa
sakit itu hilang, aku tersenyum mendengar ucapan papa, mereka benar aku tak
mudah dikalahkan oleh penyakit ini, hidupku tak akan berakhir singkat, aku
memang tak tau sampai kapan tuhan mengizinkan ku tetap berpijak di alam
nyataku, yang ku lakukan hanya kembali merajut semua mimpi-mimpiku dari awal
kemudian
aku kembali teringat oleh Kevin, penyesalan langsung menyergapku yang dirundung
kesedihan karena kehilangannya, bahkan harus menerima kebencian yang teramat
sangat dari dia yang kucintai
//
Sinar
pagi mulai menghangatkan tubuhku, disini aku masih tetap terdiam, langit hitam
mulai berpadu dengan warna kuning oranye matahari yang khas. Waktu telah
beranjak lagi, sudah jam 5 pagi, dan aku masih tetap pada posisiku menangisi
kejadian lalu. Mata ku memicing, cahayanya sungguh menyilaukan padangan.
Tangis
itu masih saja terdengar, padanganku kini tertuju pada kertas berwarna merah
muda, yang terlihat sangat berbeda diantara ratusan kertas putih yang
berserakan dilantai. Aku memang suka menulis puisi untuk Kevin, tapi itu dulu,
dan sekarang kata-kata indah dan penuh makna itu tak lagi ada artinya,
langkahku gontai menginjak-injak ceceran kertas tersebut, sesaat aku ragu
mengambil lembar istimewa itu, namun toh aku terusik untuk membacanya
Ya
… aku tersentak lalu aku menangis lagi …
“aku
bukanlah seorang wanita yang memiliki kesempurnaan juga bukan seorang wanita
yang mempunyai kelebihan berarti, tapi aku hanya memiliki satu yang tak
dimiliki siapapun yaitu adalah rasa cintaku padamu, yang sangat menyita hatiku
semuanya memamng hanya terarah padamu hanya padamu sampai kapanpun hati ini
memang hanya tertuju padamu, mengenalmu sebagai seorang senior yang baik hati
membuatku menjadi seorang yang paling bahagia, menjadi pasangan juga wanita
yang berarti bagimu merupakan kebahagiaan terbesarku, mencintaimu juga bagian
dari bahagiaku.
Kevin
… pernahkah kau merindukan ku ? sungguh pertanyaan bodoh, dan merupakan hal bodoh yang kulakukan karna
nyatanya aku sangat merindukan mu, tatapan mu tak lagi seperti dulu yang penuh
dengan kehangatan, melainkan tatapan yang kau beri, adalah sorot mata penuh
kebencian, taukah kau aku bersusaha mengalah hanya untukmu ….
Detik
berganti menit,menit berganti jam,jam berganti menjadi bulan, dan bulan
berganti menjadi tahun, pergerakan waktu yang berjalan lambat, memaksa ku untuk
menimang rasa sakit yang tak berujung, kesalahan terbesar dalam hidupku adalah
membiarkamu pergi dengan tanda Tanya besar yang membelenggu hatimu
Dan
kesalahan lain yang mungkin tak bisa kau maafkan adalah, kejujuran ku yang kau
pertanyakan, aku tak pernah bermaksud membohongimu juga semua orang yang
mengetahui permasalahan kita, hatiku terluka sungguh aku merasa sangat tersiksa
batinku juga hancur bahkan melebihi sakit yang kau rasakan, mencintaimu
melebihi benci yang ada adalah penderitaan terbesar yang harus ku terima meski
dengan paksa.
Aku
tak pernah memperdulikan apa yang kau dan lain fikirkan saat kuputuskan cinta
kita, tapi ketahuilah saat itu aku mengutuk ucapan ku sendiri, aku seperti
menampar diri karna tak bisa mengatakan seberapa besar rasa cintaku terhadapmu,
aku tersenyum getir melihat kau terus beranjak pergi meninggalkan aku tanpa
menoleh.
Kau
yang membuat senyum ini bagai tiada akhir, kau dapat membuat ku bahagia dengan
genggaman erat tanganmu, kau yang memberiku kekuatan cinta tiada tara, kau
sentuh kehidupanku dengan letulusan hatimu yang merengkuh aku, jadi bagaimana
mungkin aku tidak mencintaimu.
Apa
kau juga tau, betapa rindu ini membuatku hampir gila, aku tak pernah menyesal
karena pernah jatuh bersamamu di jurang cinta yang dalam, walau keadaan
memaksaku untuk menyerah dan kalah lebih awal
Sejak
pertama aku memang bersalah, aku yang salah karena membawa mu dalam deritaku,
kau marah ? aku tau hal itu, sebelum semuanya menjadi malapetaka bagi kita, aku
sudah mengetahuinya, kusimpan semua ini dari mu, sebab kau pantas bahagia,
bukan menangis dengan ku…
Kau
kecewa ? bagaimana mungkin kau tidak merasa kecewa, sementara aku telah memutar
balik dunia kita, aku yang salah memang aku yang bersalah …
Kau
tak sepenuhnya memahiku Kevin, tidak sepenuhnya…
Terlalu
banyak hal yang tak kau ketahui dibalik senyum manis dan keceriaan yang selalu
tampak setiap hari
Kau
memang tak lagi menjadi milikku, bagaimana mungkin aku tak menangis tiap kali
mengenangmu … kau yang mampu membuatku bertahan menanti hari esok, karnaamu aku
ingin hidup lebih lama lagi, sebab hadir mu lah yang membuat bibirku selalu
berucap pada tuhan untuk memperpanjang usiaku, jadi bagaimana mungkin aku tidak
mencintaimu ?
Tak
peduli jika kau tak memperhatikan keberadaanku, melihatmu tertawa tanpa beban
dari kejauhan sudah cukup membuat hatiku tenang, setidaknya tuhan masih
mengizinkan aku untuk terus memandangi orang yang kucintai, setiap helaan
nafasku yang semakin terasa sulit desirannnya selalu menyerukan namamu, lalu bagaimana
mungkin aku tidak mencintaimu, segala hal tentang mu akan selalu indah akan
tetap indah meski dunia tak lagi merestui kebersamaan kau dan aku…
Aku
memang bodoh dengan terus mengharap kembali kehadiranmu, aku memang bodoh
karena tak juga lelah menggapai maafmu, aku memang terlampau bodoh karena
hatiku tak juga merasa letih, dan aku memang bodoh karena tak bisa merelakanmu,
apa kau masih juga berfikir kalau aku tidak mencintaimu ?
Ku
biarkan kau merajut asa bersama dengan wanita pilihanmu, aku terima …. Dengar
Kevin aku menerimanya, meski harus tersenyum pahit, namun kau berhak
mendapatkan seseorang yang lebih dari ku, meski ku tau cintanya padamu tak
seluas dibandingkan dengan cinta yang ku beri, aku menangis lagi Kevin, ya …
aku menangis melihatmu bahagia … kau memang berbagia tetapi bahagiamu tidaklah
turut bersamaku, itu bukan rasa penyesalan Kevin… bukan … lalu apa kau masih
meyakini kalau aku tidak mencintaimu ?
Aku
telah berusaha mempertahankan keduanya, keluargaku, juga cinta kita, namun
tuhan tak mengizinkan aku memiliki keduanya
Maafkan
aku kevin … maafkan aku … maafkan aku
Andai
aku bisa memilih
“hah ….” Aku menghela nafas panjang. Kini segalanya memang
telah usai tapi tidak dengan rasa cintaku pada Kevin, aku tak tau sampai kapan
perasaan ini akan terus berkutat dalam khayalku semata, entah lah aku rasa ini
akan menjadi perjalanan yang akan sangat melelahkan kedepannya, tapi
bagaimanapun itu, aku telah berhasil melampaui takdirku, ini seperti sebuah lompatan
diantara dua jurang yang membentang.
“kamu memang telah menjadi bagian dari hidupku, pertemuan
yang tak terduga telah menghantarkan ku padamu, merengkuh hari bersama-sama
meski hanya sekejap saja, walau keadaan memaksa kita untuk terpisah, tak masalah
untukku jika kamu terus membenciku dalam ketidaktahuanmu, aku tak pernah
menyesali waktu yang mempertemukan kita disaat yang salah, kamu mungkin tidak
memahami betapa rumitnya pertentangan diantara dua sisi, hingga pada saatnya
nanti kamu akan mengerti,juga memahami relung kelam dibalik rona kehidupanku
yang bewarna
Aku mencintaimu ….” Ku tutup buku bersampul merah hati
tersebut, ini lembaran terakhir yang kini telah tertulis pesan dariku untuknya
“terima kasih tuhan … terima kasih “ bisik ku lembut penuh
makna :’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar