Jumat, 22 Februari 2013

Story In November



Tangisan itu …
Aku terpaku menatap siluet cahaya lampu jalan dari jendela kamarku, jam sudah menunjukan pukul 12 malam tapi mata ku tak juga dapat terpejam, ada sesuatu yang membuat hatiku terusik, gelapnya malam menemani lamunan ku, temaran semakin memekakan suasana, hatiku semakin menjerit, isak tangis pilu itu kembali terdengar, linangannya menyentuh pipiku dengan lembut, ku benamkan segala rasa sakit yang telah mereka torehkan.

Aku kembali menangis, bagaimana tidak ? bayangan itu kembali terlintas dalam benak ku, aku ketakutan setengah mati, dunia ku berubah hanya dalam satu kedipan mata dan satu helaan nafas, aku telah hancur bahkan puingnya lebih kecil dibandingkan debu yang terpecah belah, jiwaku tak lagi utuh, pelita kecil ku kini redup, penderitan ku kian jadi sempurna, aku tak kuasa membuka mata dan telinga, teriakan itu … kejadian itu … dan kenagan itu …

Entah sudah berapa lama aku terdiam, memandang luas tapi tatapan ku kosong, sesekali ku tutup kedua mataku  mencoba menengkan diriku sesaat, tapi gagal hatiku malah semakin gelisah. Dalam hatiku selalu timbul sebuah pertanyaan “sampai kapankah ini akan berakhir”?
Aku memang lelah menghadapi semuanya, tapi tak mungkin juga langkah ku terhenti, diriku memang tertatih meniti jalan panjang tak berujung, yang ku harapkan dapat menemukan bayangan mu dipersimpangan.
Aku merutuk diriku sendiri
Aku lah sang nahkoda gagal, aku lalai membawa kapalku mencapai pelabuhan, seperti layaknya aku yang terhempas, jiwaku melayang bagai daun kering yang tertiup hembusan angin, melambai pelan dan rapuh hanya dalam satu sentuhan.
aku tergelincir dalam sebuah pilihan rumit, dan tuhan tak mengizinkan aku memiliki keduanya
//
Kulihat kembali ponselku, masih tak ada pesan dari Kevin, sudah seminggu ini aku dan dia tidak berkomunikasi, memang semua ini salahku yang membuatnya harus menunggu kepastian yang akan ku beri, Aku dan Kevin sudah satu bulan berpacaran, dia adalah seniorku disekolah, akhir-akhir ini hubungan ku dengan Kevin tidak berjalan dengan baik ,ku ambil lagi ponselku lalu  membaca ulang pesan yang Kevin berikan sebelum kami akhirnya berpisah sejenak, dalam kalimatnya Kevin terus bertanya apa yang sebenarnya terjadi padaku, ku kira mungkin ia telah bosan menghadapi sikap ku yang keras, juga mungkin ia tak sanggup menjajari langkahnya bersamaku kedepan, entah lah fikiran ku tak berpusat padanya, tapi aku enggan untuk memberinya penjelasan, aku mungkin saja bisa mempercayai Kevin, namun aku kira tidak ada alasan bagiku untuk melibatkannya dalam permasalahan ku yang rumit, tidak untuk sekarang ataupun nanti.
Aku tau Kevin memang sangat amat mencintai juga menyayangiku, ia pria yang cukup tangguh menghadapi sifatku yang kuyakin membuatnya pusing dan harus terus menahan sabar berusaha menerima tingkahku. saat ini aku memang mulai menjauhinya dengan cara member penolakan tegas menaggapi ajakannya untuk sekedar “kencan” atau mengobrol saat jam istirahat disekolah dengan berbagai macam alasan yang kubuat
Bukan karena aku mulai jenuh, hanya saja … ahhhh

Jika aku mendeskripsikan seorang Kevin dialah pria yang sangat baik,lucu,supel,simple, dan yang paling membuatku bertekuk lutut padanya karena dia merupakan pria yang berhasil memiliki ragaku sepenuhnya, Kevin .. hah agak sulit memahaminya dia sangat istimewa bagiku, harus kuakui aku bangga dapat memilikinya, mengapa tidak ? dia adalah salah satu senior yang diperebutkan, aku sendiri juga tak tau kenapa Kevin menjatuhkan pilihannya padaku, entahlah, yang kubutuhkan darinya bukan popularitas walaupun secara tak langsung hubunganku dengannya telah menjadi perbincangan di satu sekolah, yang ku mau darinya hanya cinta yang ia beri hanya untukku, selebihnya aku tak  perduli
Kevin … aku sangat mencintaimu, bahkan aku sendiri tak mampu mengukur seberapa besar rasa cintaku, yang memang kurasa cinta ini tak memiliki batas.
//

“aku mau minta cerai, terserah kamu setuju atau tidak, aku sudah tidak sanggup lagi, biarkan anak-anak ikut denganku” hatiku berdegup kencang, sayup-sayup kudengar teriakan mama dari luar, sepertinya sumber suara itu dari ruang tamu .yang berada di lantai bawah
“lagi-lagi kaya gini” aku mendengus kesal, ingin sekali rasanya aku membungkam mulu keduanya, yang hampir setiap saat bertengkar tak kenal hari
“oke, kalau gitu mulai malam ini aku pergi akan pergi dari rumah” papa tak kalah garang membentak mama, aku tersentak mendengar ucapan papa, bagaimana pun papa tak boleh ku biarkan pergi dari rumah, karena jika papa benar-benar pergi bagaimana nasib ku dan juga rasya adik ku kelak, aku langsung bergegas berlari hendak keluar kamar, namun langkahku terhenti, badan ku terasa sangat kaku, kejadian menyakitkan itu sekarang membelenggu ingatan ku lagi. Bayangan tersebut bagaikan film yang terus diputar ulang tiada henti, banyangan papa yang telah tega menampar ku, bayangan papa yang telah menghianati mama, bayangan papa yang rela menelantarkan keluarganya, bayangan papa yang membiarkan aku menananggung penderitaan ini, membuat rasa kasih ku pada papa lebur sudah, aku memang sangat membenci papa, tapi bagaimanapun dia ayahku juga, sekejam apapun perlakuannya padaku juga mama dia tetap bagian dari keluarga kecil ini. Tapi perasaan kecewa juga sakit hati yang terlanjur menderaku, membuat niatku untuk mencegah kepergian papa terhenti.

“aaaaaaaaa…..” aku menjerit sekeras mungkin, aku terduduk dilantai kamarku yang dingin “kenapa tuhan nggak adil” kataku lirih sambil memegang dadaku yang terasa sesak, aku berdoa semoga segalanya tak berakhir buruk, aku sangat mencintai keluarga ku, mama papa juga adik laki-laki ku, apakah tuhan sejahat itu merampas kebahagiaan terindah yang kumiliki.
Nafasku tercekat, tangan ku reflek menyentuh hidung, aku terbelalak melihat darah yang kembali mengalir, mataku berkunang-kunang, jantungku berdebar, detakannya tak beraturan semakin cepat. Aku berusaha bangkit tapi tak bisa.
 “ma … maaaa…mama” suaraku terbata-bata, aku berharap seseorang mendengarku, tapi tak ada jawaban, aku merangkak perlahan menjangkau obat yang kutaruh diatas sebuah buffet kecil, keringat dingin keluar deras dari pori-pori tubuhku, dingin yang teramat sangat seakan menusuk-nusuk, aku rasa aku akan mati malam ini, deru nafasku terus memburu, dan itu membuatku gusar ku pertahankan jantungku terus bedenyut agar aku tetap terjaga. Apa malaikat akan datang menjemputku sekarang ?
“prang !!!”ku jatuhkan gelas yang berada di sisi obatku, kaki ku terluka terkena pecahan beling, syukurlah ku dengar derap langkah seseorang menaiki tangga, berarti ada yang mendengar suara itu.
“ciera… ciera kamu kenapa sayang… ciera jawab mama” benar saja mama ku datang
“maa… maaa”suara parauku terus saja memanggilnya
“brak !!!” pintu terbuka lebar, mama sangat kaget, melihat aku sudah tergelatak menahan sakit, mama seraya menghampiriku, sambil menangis.
“cieraaaaaaaaaaa” hanya itu kata terakhir yang ku dengar, sebelum aku sepenuhnya tak sadarkan diri.

//
Waktu  terus berjalan, sudah pukul 2 malam, tak sedikitpun rasa kantuk menyergapku, mata ku masih menatap siluet lampu jalan, angin malam semakin menyelimuti tubuhku yang ringkih, aku memang senang berada disini, keadaan malam begitu indah jika ku pandang dengan seksama, bulan yang tampak manis bersisihan dengan jutaan bintang, langit yang kelabu namun tampak tak kalah menawan dengan cahaya kerlapkerlip yang bertabur membentuk rasi, kesempurnaannya tak lantas membuatku jengah, ku lihat sekilas jajaran obat yang berada di atas buffetku, aku tersenyum getir, benda itulah yang mampu memperpanjang umurku selama belasan tahun, tapi rasanya sekarang aku tak lagi membutuhkannyaa, kunpasrahkan segalanya pada sang penguasa alam, jika memang waktunya tiba siapa yang bisa mengelak…
//
Sudah 3 hari papa tak kunjung kembali ke rumah, adik ku terus mempertanyakan keberadaannya, akhir-akhir ini mama lebih suka mengurung diri dalam kamarnya, sehingga aku harus sendirian mengurus rumah juga rasya.
Kami bertiga baru saja pulang dari rumah sakit, memeriksa kondisiku yang kian menuruh dari hari-ke hari, saat mama keluar dari ruangan dokter, wajahnya terlihat pucat, saat aku bertanya apa hasil pemerikasaan, mama hanya diam, bergegas memapah tubuhku yang masih lemas menuju mobilnya yang terparkir di lobby rumah sakit. Hatiku meyakini kalau kondisiku semakin memburuk.
Sejak kecil aku didiaknosa dokter mengalami kelainan jantung, sehingga aku harus terus melakukan check up rutin 6 bulan sekali, aku sudah terbiasa dengan obat-obatan yang dokter beri yang menurutnya bisa menopang hidupku lebih lama, juga jarum suntik  yang selalu menghujam lenganku setiap kali pengobatan dilakukan. Usiaku sekarang sudah 16 tahun, selama itulah aku selalu menanyakan hal yang sama pada dokter yaitu“kapan sakitku akan sembuh” , tapi dokter selalu mengatakan jawaban yang selalu sama juga hanya “segera”  yang terucap dari mulutnya, namun raut wajahnya tak bisa ku percaya dengan mudah. 16 tahun bukanlah kurun waktu yang singkat aku harus menikmati perjalanan hidupku yang tak mudah, terkadang aku iri melihat anak-anak seusiaku dapat menjalani kehidupan normal tanpa ada rasa takut saat malam tiba karena mereka masih punya harapan dihari esok, tidak seperti ku yang takut saat mataku harus terpejam karena orang sepertiku hanya memiliki harapan tipis untuk menjumpai matahari terbit dihari berikutnya.
Aku ingin memiliki mimpi seperti kebanyakan orang disana, tapi anak sepertiku untuk apa mempunyai mimpi, kalau hidupnya saja hanya tergantung pada alat medis, aku ingin sekali menjadi dewasa, tapi apa obat-obat itu akan sanggup memberiku harapan lebih banyak, ku rasa tidak, aku tak berhak memiliki sebuah impian, maupun cita-cita.
Jangankan untuk  menggantungkan mimpi ku, bernafas saja itu sudah terasa sulit, aku malu pada diriku sendiri, aku tak berdaya menembus ruang waktu, jadi apa pantas ku angankan semua impianku ?

Sepulang dari rumah sakit, Aku juga langsung masuk kekamarku, membuka tirai jendela, yang sedari pagi masih tetutup, sengatan matahari sigap menyinari seluruh sudut ruangan sederhana ini. Aku merebahkan diri di sofa kecil yang berada di sisi kanan ranjang. Aku masih penasaran dengan apa yang dokter bilang pada mama, tapi dilain hal terbesit ketakunan dalam diriku mendengar kenyataan yang terjadi, namun bagaimanapun juga aku tak bisa menghindari takdir

terkadang aku marah pada tuhan, yang menghendaki kelahiranku, mengapa tuhan tak memberiku sedikit belas kasih, belasan tahun aku harus melihat mama memangis tiada henti melihatku aku meregang sakit, dan mempertaruhkan nyawa kala sakitku kembali datang, seandainya saja tuhan memberiku kesempatan untuk mewujudkan keinginanku , maka yang kuinginkan adalah menjadi anak yang sempurna bagi orang tuaku, hatiku tak harus tersayat mendengar mama yang tersedu melihatku diambang kematian.andai saja aku terlahir sehat, orang tuaku tak akan bersusah payah memenuhi keuangan untuk pengobatanku, rasa sayang ku pada mereka lah yang membuat batinku bertambah sakit, tuhan… kalau keajaibanmu dapat mengubah seisi dunia, dan meruntuhkan alam semesta hanya dengan satu sapuan angin, mengapa kau tak member keajaiban kecilmu padaku

darah kembali menetes ditanganku, dan saat itu juga dadaku kembali terasa sesak, aku menyeka hidungku dengan saputangan yang memang selalu ada disaku bajuku, darah yang keluar cukup banyak, dan warnanya kini semakin menghitam, mungkin menandakan kalau diriku semakin rapuh,aku melirik sekilas kearah obat-obatan yang berada disampingku, niatku untuk meminumnya kurungkan, aku hanya berusaha  agar tertidur, meski jatungku kian berdentum sesukanya
//
Pukul setengah tiga malam, aku masih saja terjaga, aku menyentuh pergelangan tangan kiriku yang terlingkari oleh gelang yang Kevin berikan. Sisa air mataku mulai mengering, aku beranjak menyalakan lampu, sehingga keadaan sekarang jauh lebih terang, aku melihat bayangan ku dicermin
“gue jelek banget sih” gumamku sambil membenahi rambutku yang terlihat seperti baru saja diterpa badai Katrina selama seminggu. Kupaksakan seulas senyum meyakinkan diriku sendiri kalau semuanya akan baik-baik saja dan tak ada yang perlu kutakutkan.
Namun tak bisa kupunkiri kalau dalam lubuk hatiku masih tersimpan keresahan, mengapa waktu berjalan dengan gerak yang sangat lambat, seakan ia ingin aku merasakan kepedihan ini lebih lama lagi

Mataku menangkap bunga mawar yang berada di vas bunga berwana putih yang ku pajang di meja belajarku, tak sampai sepersekian detik menatapnya, mataku sudah kembali berkaca-kaca
“hah …”
//
Panas yang menyengat tak menyurutkan semangat para siswa untuk mengikuti aneka perlombaan yang sedang diadakan pihak sekolahku, sudah menjadi tradisi setiap tahun acara seperti ini dibuat, alasannya untuk membentuk jiwa sportif dalam diri murid yang turun langsung  untuk bertanding, aku duduk dipinggir lapangan bersama teman-teman sekelasku, diujung lapangan sisi yang lain, Kevin memperhatikan ku dari jauh, dia sedang berada di tempat panita acara, Kevin memang salah satu anggota osis yang sibuk, namun aku tak menghiraukan tatapannya, aku hanya tertuju pada pertandingan futsal yang sedang berlangsung, tapi hatiku dipenuhi oleh fikiran ku tentang kevin.
“ra dari tadi Kevin ngeliatin lo terus tuh” dena menghampiriku, lamunanku buyar, aku berusaha menenangkan diriku sendiri, aku tersenyum simpul pada dena sebagai tanda terima kasih ku atas ucapannya tadi. Dena menatap raut wajah ku yang tak biasa
“lo kenapa lagi ra ? “ ia memandangku prihatin, terbesit diwajahnya rasa khawatir, tapi aku hanya diam dan tak menoleh sedikitpun kearahnya.
“kalau lo punya masalah cerita aja sama gue, siapa tau gue bisa bantu” tangan dena menggenggam erat tangaku, aku beruntung memiliki sahabat seperti dena, tapi bukan sekarang saat yang tepat menguak sisi lain dari kehidupanku yang lain
Aku yakin kalau Kevin sekarang sedang merasakan kegalauan luar biasa, ia terus berusaha melakukan pendekatan lagi padaku, namun aku tetap pada pendirianku untuk terus menolaknya, biar saja Kevin berfikir ulang untuk melanjutkan hubungan ini, keputusanku sudah bulat
“maafin gue vin?” aku meneguhkan hati untuk segera menyelesaikan segalanya.
//
Sudah jam 3 pagi, mataku tak kunjung lelah, aku kembali merebahkan diriku diranjang, ku biarkan lampu tetap menyala, agar bayang-bayang menakutkan itu tak lagi muncul. Akhir-akhir ini aku memang sulit untuk tidur, mimpi ku selalu saja buruk sehingga hal itu sangat mengganggu, ku biarkan jendela kamarku tetap terbuka lebar, angin malam seketika menerpa wajahku, mulai terlihat orang-orang yang berlalu lalang,entah mereka hendak kemana dipagi buta seperti ini, juga kendaraan yang silih berganti melewati persimpangan jalan.
Aku kembali menempati tempat favoritku, menenggelamkan rasa sakit dengan memandang langit malam yang kian lama kian mempesona

//
Aku tertegun melihat surat cerai di atas meja rias mama, duniaku seakan runtuh, aku tak percaya papa benar-benar ingin menceraikan mama, yang sudah hampir 20 tahun setia mendampinginya, aku telah gagal menjaga keluargaku, ambang kehancuran semakin dekat, dan aku tak bisa mencegahnya lagi, aku tak ingin melihat mama terus merasa tersiksa oleh perlakuan papa, tapi dilain hal aku tidak ingin keluargaku terpecah belah, perpisahan mereka pasti akan menjadi pukulan terberat tak hanya bagiku tapi juga bagi rasya,saat itulah aku mulai kehilangan arah, aku mulai tak percaya dengan keajaiban tuhan, juga kekuatan doa yang tak putus disetiap sembah sujudku
“maafkan mama ciera” ternyata mama sudah sedari tadi memperhatikanku, entah apa yang tersirat dalam kilat mata mama yang sendu. Ingin sekali rasanya saat itu aku membenci mama yang membiarkan keluarga ini harus terpisahkan, hanya saja aku tak sampai hati melakukan itu, aku berusaha mempercayai mama.
“apapaun yang terjadi, aku hanya ingin mama tidak meninggalkan aku dan rasya” mama lalu memelukku dengan hangat, “oh tuhan …. Seberat inikah jalan hidup yang harus kutempuh” jeritku dalam hati
//
Sore hari ini, hujan kembali datang bersamaan dengan tangisku yang tak kunjung reda, hatiku masih diliputi rasa sesal, aku telah kehilangan segalanya, kebahagiaan,keceriaan,kegembiaraan,bahkan kini cintaku telah direnggut paksa oleh keadaan, aku lelah dipermainkan oleh waktu.
Kevin telah pergi meninggalkan aku, salah ! tapi akulah yang meninggalkan Kevin begitu saja, hatiku sakit menerima kenyataan kalau Kevin harus ku lepaskan,
Kilas balik ingatan ku kembali berputar dengan kejadian siang tadi.

Dari kejauhan dapat kulihat Kevin sedang berjalan menghampiriku, dena yang melihat terlebih dahulu segera menyingkir untuk memberi ruang bagi Kevin bicara dengan ku
“ra …” ia langsung  berjongkok dihadapanku .Aku hanya diam tanpa memandang kearahnya
“kamu kenapa menghindar dari aku ? kamu yakin minta putus” aku sudah yakin pertanyan itu yang akan Kevin ajukan pertama kali, semalam sebelumnya aku memang minta putus darinya, namun Kevin meminta agar segalanya dibicarakan dulu, mungkin ia bermaksud untuk meyakinkan lagi keputusanku. Aku hanya mengangguk, bibirku keluh lidahku terasa membeku, aku tak sanggup menyakitinya lebih dari ini, aku berbalik menatapnya, mata itu … mengisyaratkan perasaan kecewa dan terluka, aku tau Kevin merasa terbuang oleh sikapku yang seakan tak memiliki hati nurani dan belas kasih, namun aku tak punya pilihan lain, aku harus mengorbankan perasaanku walaupun hatiku sakit dengan pukulan bertubi-tubi seperti ini, namun aku harus melakukannya karena memang tak ada jalan lain, Kevin harus membenci ku, bagaimanapun dia tak boleh terus mencintai wanita sepertiku, perasaanya harus dihentikan, meski harus merubahnya membenciku seumur hidup bagiku lebih baik begini, daripada ia harus menerima rasa malu karena kekasihnya bukanlah seorang wanita yang terlihat sangat hebat diluar, tapi hanyalah seorang wanita yang hidupnya dilimpahi penderitaan dengan topeng yang selalu dipakainya setiap hari, ku lakukan ini hanya untuk kebahagiaannya, tak ada lagi alasan bagiku untuk bertahan bersama Kevin, biarkan selamanya ini menjadi rahasia, dan akupun tau mulai detik ini Kevin akan benar-benar menghilang, Tangisan ku semakin pilu. Dan aku makin membenci kehidupanku, aku terus menjerit mengapa tuhan memberikan aku pilihan sesulit ini, aku harus kehilangan orang yang ku cintai dengan segenap hatiku. Mengapa kisahku dengannya harus berakhir bencana

//
Aku terbangun, ternyata aku sempat tertidur sejenak, matahari belum juga keluar dari peraduannya, rembulan masih terang benderang berdampingan dengan jutaan kerlip bintang
 Mimpi buruk itu kembali datang. entah sudah berapa banyak air mata yang ku tumpahkan seiring duka ku yang tak kunjung berakhir, aku menyesal telah
menjadi abu dimasa lalu ku, tapi apa daya aku tak bisa mengulang waktu..
Aku seharusnya sedikit bisa lebih bersyukur karena setidaknya keluargaku dapat terselamatkan. Ya semuanya bergulir dan aku menemukan secercah harapan di saat perjuanganku melawan sakit.
//
Sepanjang sisa liburan, ku habiskan dirumah sakit, aku kembali drop, dokter mengatakan aku mengalami stres ringan akibat terlalu banyak berfikir, mama sangat menkhawatirkan keadaanku, karna hampir 4 hari aku koma, kata mama aku ditemukan pingsan dalam kamar dengan hidungku yang bersimbah darah. Saat ku membuka mata yang kudapati hanyalah sosok mama dan rasya, jujur aku sangat merindukan papa, sudah 6 hari aku dirawat, dan dokter membawa berita baik, jantungku mulai stabil hanya saja untuk sekarang, aku belum diperbolehkan untuk melakukan aktifitas berat, karena akan mempengaruhi kondisi jantungku.
Rona wajahku berseri-seri, papa datang dihari itu, membawa sekotak kue kesukaanku.
“maafkan papa ciera, papa berdosa sama kamu,rasya,dan juga mamamu” papa mengatakan hal itu sambil menangis dan memegang tangan ku yang masih terbalut jarum infus.
Oh tuhan … kau tiba dengan membawa sebagian kecil mukjizatmu, tangisku tak terbendung lagi
“aku Cuma ingin mama dan papa mambatalkan niat kalian untuk bercerai, aku nggak punya permintaan apa-apa lagi selain itu” aku berusaha mengatakan apa yang memang ku inginkan, aku takut menunggu jawaban dari papa, bagaimana kalau jawabannya “tidak” sejenak papa terdiam, mungkin ia sedang memikirkan keputusannnya
“mama dan papa nggak akan pisah” tiba-tiba mama menjawab senyumnya telah kembali mama menghampiri kami, lalu mengecup keningku, menatapku lembut seakan meyakinkan ku kalau semuanya akan baik-baik saja, aku senan karena dari sorot matanya, tak terlihat kebohongan, tak ada kepura-puraan disana.

Aku menangis lagi, keduanya kini memelukku dengan erat, aku tak lagi menyesali kehidupanku, betapa aku yang bodoh tak mensyukuri keberadaanku yang sangat berarti bagi mereka
“hiduplah untuk kami, kamu anak terhebat yang pernah ada didunia ini, bertahanlah untuk hidupmu”semangat kesembuhan menjalar disekujur tubuhku, seketika segala rasa sakit itu hilang, aku tersenyum mendengar ucapan papa, mereka benar aku tak mudah dikalahkan oleh penyakit ini, hidupku tak akan berakhir singkat, aku memang tak tau sampai kapan tuhan mengizinkan ku tetap berpijak di alam nyataku, yang ku lakukan hanya kembali merajut semua mimpi-mimpiku dari awal

kemudian aku kembali teringat oleh Kevin, penyesalan langsung menyergapku yang dirundung kesedihan karena kehilangannya, bahkan harus menerima kebencian yang teramat sangat dari dia yang kucintai
//
Sinar pagi mulai menghangatkan tubuhku, disini aku masih tetap terdiam, langit hitam mulai berpadu dengan warna kuning oranye matahari yang khas. Waktu telah beranjak lagi, sudah jam 5 pagi, dan aku masih tetap pada posisiku menangisi kejadian lalu. Mata ku memicing, cahayanya sungguh menyilaukan padangan.
Tangis itu masih saja terdengar, padanganku kini tertuju pada kertas berwarna merah muda, yang terlihat sangat berbeda diantara ratusan kertas putih yang berserakan dilantai. Aku memang suka menulis puisi untuk Kevin, tapi itu dulu, dan sekarang kata-kata indah dan penuh makna itu tak lagi ada artinya, langkahku gontai menginjak-injak ceceran kertas tersebut, sesaat aku ragu mengambil lembar istimewa itu, namun toh aku terusik untuk membacanya
Ya … aku tersentak lalu aku menangis lagi …

“aku bukanlah seorang wanita yang memiliki kesempurnaan juga bukan seorang wanita yang mempunyai kelebihan berarti, tapi aku hanya memiliki satu yang tak dimiliki siapapun yaitu adalah rasa cintaku padamu, yang sangat menyita hatiku semuanya memamng hanya terarah padamu hanya padamu sampai kapanpun hati ini memang hanya tertuju padamu, mengenalmu sebagai seorang senior yang baik hati membuatku menjadi seorang yang paling bahagia, menjadi pasangan juga wanita yang berarti bagimu merupakan kebahagiaan terbesarku, mencintaimu juga bagian dari bahagiaku.
Kevin … pernahkah kau merindukan ku ? sungguh pertanyaan bodoh,  dan merupakan hal bodoh yang kulakukan karna nyatanya aku sangat merindukan mu, tatapan mu tak lagi seperti dulu yang penuh dengan kehangatan, melainkan tatapan yang kau beri, adalah sorot mata penuh kebencian, taukah kau aku bersusaha mengalah hanya untukmu ….
Detik berganti menit,menit berganti jam,jam berganti menjadi bulan, dan bulan berganti menjadi tahun, pergerakan waktu yang berjalan lambat, memaksa ku untuk menimang rasa sakit yang tak berujung, kesalahan terbesar dalam hidupku adalah membiarkamu pergi dengan tanda Tanya besar yang membelenggu hatimu
Dan kesalahan lain yang mungkin tak bisa kau maafkan adalah, kejujuran ku yang kau pertanyakan, aku tak pernah bermaksud membohongimu juga semua orang yang mengetahui permasalahan kita, hatiku terluka sungguh aku merasa sangat tersiksa batinku juga hancur bahkan melebihi sakit yang kau rasakan, mencintaimu melebihi benci yang ada adalah penderitaan terbesar yang harus ku terima meski dengan paksa.
Aku tak pernah memperdulikan apa yang kau dan lain fikirkan saat kuputuskan cinta kita, tapi ketahuilah saat itu aku mengutuk ucapan ku sendiri, aku seperti menampar diri karna tak bisa mengatakan seberapa besar rasa cintaku terhadapmu, aku tersenyum getir melihat kau terus beranjak pergi meninggalkan aku tanpa menoleh.
Kau yang membuat senyum ini bagai tiada akhir, kau dapat membuat ku bahagia dengan genggaman erat tanganmu, kau yang memberiku kekuatan cinta tiada tara, kau sentuh kehidupanku dengan letulusan hatimu yang merengkuh aku, jadi bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu.
Apa kau juga tau, betapa rindu ini membuatku hampir gila, aku tak pernah menyesal karena pernah jatuh bersamamu di jurang cinta yang dalam, walau keadaan memaksaku untuk menyerah dan kalah lebih awal
Sejak pertama aku memang bersalah, aku yang salah karena membawa mu dalam deritaku, kau marah ? aku tau hal itu, sebelum semuanya menjadi malapetaka bagi kita, aku sudah mengetahuinya, kusimpan semua ini dari mu, sebab kau pantas bahagia, bukan menangis dengan ku…
Kau kecewa ? bagaimana mungkin kau tidak merasa kecewa, sementara aku telah memutar balik dunia kita, aku yang salah memang aku yang bersalah …
Kau tak sepenuhnya memahiku Kevin, tidak sepenuhnya…
Terlalu banyak hal yang tak kau ketahui dibalik senyum manis dan keceriaan yang selalu tampak setiap hari
Kau memang tak lagi menjadi milikku, bagaimana mungkin aku tak menangis tiap kali mengenangmu … kau yang mampu membuatku bertahan menanti hari esok, karnaamu aku ingin hidup lebih lama lagi, sebab hadir mu lah yang membuat bibirku selalu berucap pada tuhan untuk memperpanjang usiaku, jadi bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu ?
Tak peduli jika kau tak memperhatikan keberadaanku, melihatmu tertawa tanpa beban dari kejauhan sudah cukup membuat hatiku tenang, setidaknya tuhan masih mengizinkan aku untuk terus memandangi orang yang kucintai, setiap helaan nafasku yang semakin terasa sulit desirannnya selalu menyerukan namamu, lalu bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, segala hal tentang mu akan selalu indah akan tetap indah meski dunia tak lagi merestui kebersamaan kau dan aku…
Aku memang bodoh dengan terus mengharap kembali kehadiranmu, aku memang bodoh karena tak juga lelah menggapai maafmu, aku memang terlampau bodoh karena hatiku tak juga merasa letih, dan aku memang bodoh karena tak bisa merelakanmu, apa kau masih juga berfikir kalau aku tidak mencintaimu ?
Ku biarkan kau merajut asa bersama dengan wanita pilihanmu, aku terima …. Dengar Kevin aku menerimanya, meski harus tersenyum pahit, namun kau berhak mendapatkan seseorang yang lebih dari ku, meski ku tau cintanya padamu tak seluas dibandingkan dengan cinta yang ku beri, aku menangis lagi Kevin, ya … aku menangis melihatmu bahagia … kau memang berbagia tetapi bahagiamu tidaklah turut bersamaku, itu bukan rasa penyesalan Kevin… bukan … lalu apa kau masih meyakini kalau aku tidak mencintaimu ?
Aku telah berusaha mempertahankan keduanya, keluargaku, juga cinta kita, namun tuhan tak mengizinkan aku memiliki keduanya
Maafkan aku kevin … maafkan aku … maafkan aku
Andai aku bisa memilih

hah ….” Aku menghela nafas panjang. Kini segalanya memang telah usai tapi tidak dengan rasa cintaku pada Kevin, aku tak tau sampai kapan perasaan ini akan terus berkutat dalam khayalku semata, entah lah aku rasa ini akan menjadi perjalanan yang akan sangat melelahkan kedepannya, tapi bagaimanapun itu, aku telah berhasil melampaui takdirku, ini seperti sebuah lompatan diantara dua jurang yang membentang.

“kamu memang telah menjadi bagian dari hidupku, pertemuan yang tak terduga telah menghantarkan ku padamu, merengkuh hari bersama-sama meski hanya sekejap saja, walau keadaan memaksa kita untuk terpisah, tak masalah untukku jika kamu terus membenciku dalam ketidaktahuanmu, aku tak pernah menyesali waktu yang mempertemukan kita disaat yang salah, kamu mungkin tidak memahami betapa rumitnya pertentangan diantara dua sisi, hingga pada saatnya nanti kamu akan mengerti,juga memahami relung kelam dibalik rona kehidupanku yang bewarna
Aku mencintaimu ….” Ku tutup buku bersampul merah hati tersebut, ini lembaran terakhir yang kini telah tertulis pesan dariku untuknya
“terima kasih tuhan … terima kasih “ bisik ku lembut penuh makna :’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar